Pembangkit Jawa-Bali Serius Manfaatkan Rumput Laut

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang ibu memisahkan sampah dengan rumput laut yang terdampar di Pantai Tanah Beru, kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, 07 Maret 2015. Saat musim angin barat tiba warga mencari rumput laut diantara sampah yang terbawa Ombak untuk di jual kepada pengepul. TEMPO/Iqbal Lubis

    Seorang ibu memisahkan sampah dengan rumput laut yang terdampar di Pantai Tanah Beru, kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, 07 Maret 2015. Saat musim angin barat tiba warga mencari rumput laut diantara sampah yang terbawa Ombak untuk di jual kepada pengepul. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Surabaya - PT Pembangkit Jawa Bali (Persero) menyatakan komitmennya terus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya dengan memanfaatkan rumput laut sebagai salah satu sumber baru dalam menghasilkan energi.

    "Kami berhasil memproduksi energi baru dan terbarukan ini sebesar 1.500 MW dari total 7.039 MW produksi listrik di delapan lokasi," ujar Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara di kantornya, Rabu, 10 Agustus 2016. Angka itu sama dengan 21 persen dari total produksi listrik.

    Iwan menjelaskan, PJB telah mengembangkan EBT dari berbagai sumber energi baru, seperti tenaga surya, energi arus laut yang digabungkan dengan jembatan, dan rumput laut.

    Perusahaan menargetkan penambahan energi baru itu dalam kurun waktu lima tahun ke depan. "Kalau saat ini sudah 1.500 MW, lima tahun ke depan bisa mencapai 2.500 MW atau 25 persen dari total produksi listrik yang kami produksi," ucap Iwan.

    Untuk saat ini, PJB mengaku tengah mengembangkan rumput laut sebagai energi baru. Iwan menuturkan salah satu spesies rumput laut memiliki kandungan metan yang sangat tinggi. "Kami bekerja sama dengan perusahaan Belanda dan Universitas Diponegoro, Semarang. Kalau berhasil, ini akan menjadi potensi listrik yang luar biasa," ujarnya.

    Energi baru dari rumput laut ini diperkirakan mampu menghasilkan 10 MW. Infrastrukturnya bakal dibangun di Amurang, Sulawesi Utara. Sebelum dibangun, PJB masih menunggu hasil riset yang lebih-kurang membutuhkan waktu delapan bulan lagi. Setelah riset disetujui, proyek itu akan selesai dalam tiga tahun berikutnya.

    Sebelumnya, PJB sempat mencoba mengembangkan energi dari rumput laut ini di Madura. Namun hasil pengembangan di Pulau Garam dinilai tak sebagus seperti di Sulawesi Utara.

    "Sulawesi Utara dipilih karena memiliki kedalaman yang sempurna. Apalagi, dari segi pembiayaan, energi dari rumput laut ini lebih murah daripada energi terbarukan lain," tutur Iwan.

    Selain itu, PJB kini merampungkan beberapa proyek, di antaranya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang mampu menghasilkan 510 MW. Berikutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Mini Gas (PLTMG) Bawean yang dapat menghasilkan 3 MW, dan energi surya di Cirata yang mampu menghasilkan 1 MW.

    Berbagai proyek yang sedang dikerjakan PJB merupakan upaya pemenuhan target proyek nasional 35 GW listrik dari pemerintah pusat. PJB juga mempersiapkan PLTU Jawa 7 yang berada dalam proses produksi listrik 2 x 1.000 MW menggunakan teknologi ultra supercritical.

    ARTIKA RACHMI FARMITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.