Menteri Perhubungan: Terminal 3 Ultimate Belum Rampung 100 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruang tunggu di terminal keberangkatan Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, 10 Juni 2016. Tempo/Rully Kesuma

    Ruang tunggu di terminal keberangkatan Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, 10 Juni 2016. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.COTangerang - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta secara fisik belum 100 persen rampung proses pengerjaannya. Namun bisa beroperasi secara resmi mulai Senin dinihari, 9 Agustus 2016.

    Menurut Budi, pengerjaan Terminal 3 Ultimate ditargetkan selesai seluruhnya Maret 2017. Hal itu bersamaan dengan selesainya pembangunan people mover dan kereta bandara.

    Budi menjelaskan, keberadaan Terminal 3 Ultimate sebagai sarana meningkatkan pelayanan bagi penumpang yang datang dan pergi dari Indonesia. "Terminal 3 jadi lompatan pelayanan bagi Indonesia dan menjadi pintu gerbang baru pariwisata Indonesia," katanya saat meninjau Terminal itu, Selasa, 9 Agustus.

    Bila digabung dengan Terminal 1 dan Terminal 2, secara keseluruhan, Bandara Soekarno-Hatta mampu menampung penumpang mencapai 65 juta orang per tahun. Tiap terminal menampung 40 juta orang. Sedangkan Terminal 3 sebanyak 25 juta orang.

    Budi menjelaskan, secara bertahap, penerbangan domestik dilakukan di Terminal 3. Sebulan kemudian, terminal ini akan melayani penerbangan internasional Garuda Indonesia. Pada November mendatang, Sky Team juga pindah ke Terminal 3 Ultimate. "Maret 2017, semua penerbangan internasional dapat pindah ke sini (Terminal 3)," ia menuturkan.

    Penerbangan pertama dari Terminal 3 berlangsung dinihari tadi, yakni penerbangan maskapai Garuda Indonesia tujuan Papua. Adapun kedatangan pertama tiba dari Palembang.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.