Industri Logam Rumahan di Tegal Dilibas Produk Logam Cina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teknisi  melakukan pemeriksaan komponen mesin  yang di rakit oleh para siswa SMKN 1 Jakarta, kamis (05/01) Dengan kapasitas mesin 1500 CC  Twin Cam 16 valve, dengan bahan  logam tertentu yang masih di impor dari luar dibuat mampu bersaing dengan produk mesin mobil ternama. TEMPO/Dasril Roszandi

    Teknisi melakukan pemeriksaan komponen mesin yang di rakit oleh para siswa SMKN 1 Jakarta, kamis (05/01) Dengan kapasitas mesin 1500 CC Twin Cam 16 valve, dengan bahan logam tertentu yang masih di impor dari luar dibuat mampu bersaing dengan produk mesin mobil ternama. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.COTegal - Industri logam rumahan di Kota Tegal, Jawa Tengah, kalah bersaing oleh produk logam asal Cina yang kini menyerbu pasar domestik. “Banyak keluhan dari para pelaku industri yang kesulitan menembus pasar di kota-kota besar,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tegal Suripto, Senin, 8 Agustus 2016.

    Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) SU Anwari Kota Tegal Sukamto Rohman mengatakan produk logam dari Cina tersebut membanjiri pasar di Glodok, Jakarta. Biasanya, perajin logam memang mengirimkan produknya ke kawasan perdagangan di Jakarta itu. “Sekarang banyak bakul (tengkulak) di sana yang menolak. Alasannya, sudah banyak dari Cina dan harganya lebih murah,” katanya.

    Menurut Sukamto, satu per satu pemilik industri logam rumahan berhenti berproduksi lantaran sepi order. Biasanya, dalam satu bulan, dia bisa menggarap 50 unit mesin bor. Namun sekarang hanya bisa menggarap maksimal sepuluh unit. “Bahkan pernah tidak ada sama sekali,” tutur Sukamto.

    Kondisi ini, kata dia, diperparah dengan mahalnya bahan baku. Misalnya, harga besi cor yang biasanya dibeli Rp 10 ribu per kilogram naik jadi Rp 15 ribu kilogram. Aluminium biasanya Rp 20 ribu per kilogram. “Kuningan sekarang Rp 45 ribu, semula hanya Rp 40 ribu,” ucapnya.

    Untuk membantu industri logam ini, Pemerintah Kota Tegal telah meminta bantuan kepada Kementerian Perindustrian. Suripto menjelaskan, pada 2015, Kementerian Perindustrian menggelar pelatihan bagi pelaku industri logam di Tegal. Pelatihan itu bertujuan membekali perajin agar lebih siap lagi menghadapi pasar bebas. “Setelah pelatihan, Kementerian mau memberi bantuan alat bubut sebanyak dua unit. Tapi sampai sekarang belum ada, informasinya gagal lelang,” kata Suripto.

    Namun Sukamto tak berharap lagi dengan bantuan itu. Sebab, yang dibutuhkan mereka saat ini bukanlah alat, tapi akses kepada pembeli. “Kalau alat, kami gampanglah. Alat kami juga ada. Yang penting pemerintah itu bisa menghubungkan kami kepada buyer,” ujarnya.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).