BI Yakin Pertumbuhan Ekonomi 2016 di Atas 5 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bank Indonesia (BI). TEMPO/Imam Sukamto

    Ilustrasi Bank Indonesia (BI). TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia meyakini pencapaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2016 akan mendorong produk domestik bruto (PDB) dalam setahun ini di atas 5%.

    Gubernur BI Agus D.W Martowardojo menyambut baik raihan PDB kuartal II/2016 sebesar 5,18% atau di atas prediksi bank sentral yang memproyeksikan sebesar 4,94%. Menurutnya, ada perbedaan hasil perhitungan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan BI yang mana ekspor yang diperkirakan bank sentral masih tertekan ternyata telah menunjukkan perbaikan.

    "Kelihatannya dari konsumsi pemerintah maupun konsumsi rumah tangga, kita tidak lihat ada perbedaan dari apa yang kita hitung. Yang kita lihat ada perbedaan adalah di ekspor," ucapnya, di Kompleks Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016.

    Dia menyatakan perbaikan di ekspor terkonfirmasi oleh beberapa komoditas yang menunjukkan harga yang lebih baik dan tidak sedalam sebelumnya. Dia berharap kondisi tersebut dapat membuat perekonomian di semester kedua meningkat sehingga dapat mencapai pertumbuhan di atas 5%.

    "Ini kondisi yang baik, kita harapkan di semester kedua bisa lebih baik. Dari kondisi 5,18% ini, kita akan bayangkan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2016 akan berada di atas 5%," katanya.

    BPS telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi sepanjang kuartal II/2016 mencapai 5,18%. Total PDB kuartal II/2016 sebesar Rp2.353,2 triliun (atas dasar harga berlaku/ADHB).

    Realisasi tersebut merupakan tertinggi di periode yang sama dalam dua tahun terakhir dengan rincian 4,66% (2015) dan 4,96% (2014).  Sedangkan pertumbuhan ekonomi kuartal II/2013 sebesar 5,59%.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.