Kadin: T3 Bandara Soekarno Hatta Lebih Besar dari Changi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah membersihkan Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno Hatta, di Cengkareng, Tangerang, 16 Juni 2016. Terminal yang dibangun secara megah ini untuk mengurangi kepadatan lalulintas penerbangan. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah membersihkan Terminal 3 Ultimate Bandara Internasional Soekarno Hatta, di Cengkareng, Tangerang, 16 Juni 2016. Terminal yang dibangun secara megah ini untuk mengurangi kepadatan lalulintas penerbangan. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengapresiasi pengembangan terminal tiga Bandara Soekarno-Hatta oleh PT Angkasa Pura II yang akan segera diresmikan pada pertengahan Agustus 2016.

    Wakil Ketua Kadin bidang Perhubungan Carmelita Hartoto mengungkapkan pengembangan terminal tiga (T3) memang sudah harus dilakukan karena jumlah penumpang yang terus tumbuh pesat di Bandara Soekarno - Hatta, Banten.

    "Sekarang pengembangan sudah dilakukan, kini kita punya bandara besar yang bisa dibanggakan. Bahkan, terminalnya lebih besar dari terminal Bandara Changi, Singapura. Maka T3 akan menjadi terminal yang terbesar di kawasan," ujarnya, Selasa (2 Agustus 2016).

    Oleh karena itu, dia berharap terminal ini dapat segera beroperasi melayani penumpang segera. Setelah terminal rampung, Carmelita mengingatkan agar pihak PT Angkasa Pura II (AP II) segera menyelesaikan pembangunan automatic people mover atau sarana untuk perpindahan penumpang antar terminal di dalam Bandara Soekarno - Hatta.

    "People mover-nya harus dipercepat. Selain itu, jangan lupa pembangunan kereta bandara sebagai akses ke bandara juga harus dipercepat pembangunannya," ujarnya.

    Menurutnya, kereta bandara ini penting karena satu-satunya akses ke Bandara Soekarno - Hatta hanya melalui jalur darat atau jalan tol.  Jika sewaktu-waktu ada insiden di akses tol menuju bandara, maka penumpang Akan memiliki akses alternatif dengan moda transportasi lainnya.

    Dari sisi udara, Wakil Ketua Kadin bidang Perhubungan ini berharap AP II segera membangun east cross taxiway. Dengan east cross taxiway, maka trafik pergerakan pesawat dapat meningkat sehingga mengurangi antrian pesawat baik take off dan landing.

    "T3 hanya menambah kapasitas penumpang di landside, namun tidak untuk kapasitas penerbangan (airside) sehingga akan lebih signifikan jika east cross taxiway-nya nantinya segera dituntaskan pembangunannya," imbuhnya.

    Kedepannya, dia berharap landasan pacu ketiga (runway) juga dapat dimulai pekerjaannya. Dengan kombinasi infrastruktur yang memadai, bukan tidak mungkin Bandara Soekarno - Hatta menjadi bandara internasional kelas dunia yang terbaik.

    Lebih lanjut, dia berpesan agar semua pihak harus mulai melakukan koordinasi bagaimana agar konektivitas udara lebih efisien. Caranya, semua pihak terkait harus memikirkan pengembangan bandara lain.

    Saat ini, saya melihat masih ada penumpang dari Padang ke Palembang yang harus transit di Bandara Soekarno Hatta sebelum melanjutkan penerbangan ke Palembang.

    "Padang - Palembang harus dicek bagaimana frekuensi dan kapasitas penerbangannya. Ini memang menambah penumpang di Bandara Soetta, tapi di sisi lain tidak efisien dan justru menambah beban kapasitas Bandara Soetta."

    Hal ini dipicu oleh banyaknya penumpang domestik ke Jakarta hanya sekedar transit, padahal dilihat dari jarak dan rute tidak efisien. Akhirnya, beban bandara jadi tidak merata.

    Kadin melihat perkara ini bukan hanya tugas operator dan pemerintah, tetapi pemerintah daerah juga harus berperan dalam membangun konektivitas yang baik dan simpul ekonomi untuk menunjang konektivitas tersebut.

    "Kalau ekonominya tidak didorong, maka frekuensi penerbangannya juga tidak bertumbuh. Pemda juga punya peran penting sehingga ada pemerataan penumpang."

    Dengan begitu, dia menyarankan Soetta dengan T3nya sebaiknya diarahkan sebagai hub internasional bukan hanya hub nasional. "Selama ini kebanyakan nasional kan. Hub internasional, banyak yang memilih Changi."

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.