Kenaikan Harga Pangan di Atas 1 Persen, Indef: Bahaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Solusi Ekonomi INDEF

    Solusi Ekonomi INDEF "Menangkap Peluang Banjir Dana Asing" di Veteran Coffee & Resto, Jakarta, 25 Juli 2016. TEMPO/Atika Nusya

    TEMPO.COJakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan inflasi pada Juli 2016 sebesar 0,69 persen. Kenaikan ini dipicu kenaikan harga pangan sebesar 1,12 persen.

    “Inflasi konkret yang bisa mempengaruhi masyarakat adalah pangan,” ucap Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati dalam acara Diskusi Rutin Solusi Ekonomi Indef di Jakarta, Senin, 1 Agustus 2016.

    Menurut Enny, kenaikan harga pangan tersebut masih tinggi. "Akan bahaya jika inflasi pangan tetap berada di atas 1 persen," ujarnya.

    Enny menuturkan, walaupun pemicu kenaikan ini berasal dari konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Idul Fitri, pemerintah seharusnya dapat menekan inflasi dengan mendistribusikan pangan sesuai dengan permintaan.

    Menurut dia, akan sulit menaikkan konsumsi rumah tangga jika kondisi pangan masih seperti ini. Ia memperkirakan tren inflasi pada Agustus 2016 tidak akan berubah jika kecukupan pangan dan tata niaganya belum terpenuhi dengan baik.

    ATIKA NUSYA PUTERI | NN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.