Produksi Tembakau Menurun, Industri Rokok Terpaksa Impor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJember - Head of Regulatory Affairs, International Trade, & Communications PT HM Sampoerna Tbk Elvira mengatakan dalam lima tahun terakhir, rata-rata produksi tembakau di dalam negeri selalu di bawah 200 ribu ton per tahun. Padahal permintaan berkisar 320 ribu ton per tahun. "Artinya, ada kekurangan (shortage) sekitar 120 ribu ton dari permintaan industri sebesar 320 ribu ton," katanya di Jember, Jawa Timur, Sabtu, 30 Juli 2016. 

    Berdasarkan data Kementerian Pertanian pada 2014, hasil panen tembakau mencapai 163.187 ton. Sedangkan permintaan industri setiap tahun mencapai sekitar 300 ribu ton. Padahal, di Indonesia, kurang-lebih terdapat 550 ribu petani tembakau. "Akibatnya, Indonesia, yang juga negara produsen rokok kretek terbesar di dunia, terpaksa mengimpor tembakau dari luar negeri," tuturnya. 

    Menurut Elvira, kekurangan pasokan tembakau ini dilatarbelakangi beberapa faktor, antara lain keterbatasan modal, teknik pertanian tradisional yang tidak efisien, kurangnya dukungan teknis dan infrastruktur pertanian, serta minimnya akses pasar secara langsung oleh petani sehingga keuntungan berkurang.

    Elvira mengatakan kunci utama meningkatkan produktivitas tembakau adalah meningkatkan sumber daya manusia, jaringan kemitraan bisnis, dan peningkatan daya saing. Salah satunya melalui program kemitraan dengan petani tembakau.

    Program kemitraan itu adalah sistem produksi terintegrasi (integrated production system/IPS) yang telah dilakukan Sampoerna sejak 2009 di beberapa sentra penanaman tembakau, termasuk di Jember. Elvira mengatakan ada sekitar 27 ribu petani yang telah bergabung dalam sistem IPS untuk menggarap lahan yang tersebar di Rembang, Lombok, Wonogiri, Malang, Jember, Blitar, dan Lumajang. 

    Manajer PT Sadana Arif Nusa Eko Harianto, selaku perusahaan penyuplai tembakau untuk Sampoerna, mengklaim ada peningkatan produksi tembakau antara sebelum dan setelah ada kemitraan. Eko mengaku menangani sekitar 1.000 petani dengan luas lahan 1.600 hektare. "Sementara sebelumnya per hektare sekitar 1,2 ton, saat ini bisa mencapai 1,6 ton per panen," katanya.

    Sunaryo, salah satu petani tembakau di Kecamatan Sukowono, Jember, berujar ia banyak menerima manfaat dengan bergabung dalam program kemitraan IPS. "Terutama soal teknologi untuk efisiensi kerja dan biaya. Yang penting lagi ada jaminan pasar setelah panen," ujarnya. 

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.