BI: Inflasi Setelah Lebaran Lebih Rendah Dibanding Saat Puasa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mirza Adityaswara, Deputi Senior Bank Indonesia. TEMPO/Riyan Nofitra

    Mirza Adityaswara, Deputi Senior Bank Indonesia. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pola inflasi setelah Idul Fitri selalu lebih rendah dibandingkan inflasi saat puasa. Pada tahun-tahun sebelumnya, inflasi saat Ramadan berkisar 0,9-1,2 persen.

    "Kemarin (Juni) 0,6 persen. Jadi lebih bagus pencapaiannya," kata Mirza saat ditemui di kediaman Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Jalan Widya Chandra IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Juli 2016.

    Mirza berharap, di tahun-tahun mendatang, inflasi saat puasa akan berada di bawah 0,5 persen. "Sesuai dengan harapan Presiden, kalau harga dan suplai makanan jauh lebih baik, mudah-mudahan inflasi di masa puasa di bawah 0,5 persen. Itu akan bagus," ujarnya.

    Untuk inflasi pada Juli, Mirza memprediksi tidak akan terjadi kenaikan yang begitu signifikan meski memasuki tahun ajaran baru. "Walaupun inflasi akan sedikit lebih tinggi, tapi, menurut kami, polanya masih normal," kata Mirza, menambahkan.

    Badan Pusat Statistik mencatat, inflasi pada Juni 0,66 persen (month to month). Dibandingkan Juni dalam 5 tahun terakhir, laju inflasi ini cukup terkontrol. Pada Juni 2011, inflasi mencapai 0,55 persen; 2012 0,62 persen; 2013 1,03 persen; 2014 0,43 persen; dan 2015 0,54 persen.

    Inflasi 0,66 persen itu terjadi karena kenaikan harga untuk tarif angkutan udara, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, gula pasir, kentang, wortel, beras, bayam, apel, tarif listrik, emas perhiasan, dan tarif angkutan antarkota. Adapun komoditas yang menahan laju inflasi adalah bawang merah yang harganya turun 10,19 persen.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.