Mencoba Bertahan di Tengah Melejitnya Harga Pangan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bawang merah yang dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Harga bawang naik dari 20 ribu rupiah menjadi 22 ribu rupiah perkilogram. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Bawang merah yang dijual di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Harga bawang naik dari 20 ribu rupiah menjadi 22 ribu rupiah perkilogram. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Satu jam lamanya Catiri, pedagang bahan pokok di Pasar Kebayoran Lama, menanti pembeli. Dia tampak duduk berpangku tangan sembari memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di depan lapak dagangannya, Sabtu, 11 Juni 2016. Sesekali, wanita berusia 43 tahun itu menawarkan bawang merah, cabai, kentang, dan bahan-bahan pokok lainnya kepada pembeli.

    Cati, sapaan akrab Catiri, mengaku bahwa sejak awal puasa kemarin pembeli bahan pokok mulai berkurang. Padahal, menurut dia, di bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, pembeli tetap ramai. "Sebelum puasa kemarin juga masih rame," ujar wanita yang berdagang bahan pokok di Pasar Kebayoran Lama sejak 1989 itu.

    Sebabnya, menurut wanita asal Palimanan tersebut, harga beberapa bahan pokok naik. Saat ini, harga bawang merah yang dijualnya menyentuh harga Rp 40 ribu per kilogram. Harga kentang pun naik Rp 500 rupiah, menjadi Rp 15 ribu per kilogram. "Kalau tomat biasa, Rp 13 ribu per kilogram. Cabai merah malah udah turun, Rp 31 ribu per kilogram," katanya.

    Ibu empat anak itu bercerita, setiap harinya ia mengambil bahan-bahan pokok yang dijualnya itu di tengkulak. "Banyak yang suka nganterin ke sini, jadi nggak ke (pasar) induk," tuturnya. Dari tengkulak itu, Cati biasanya mengambil untung sekitar Rp 2 ribu per kilogram. Namun, ia mengaku tak tahu menahu kenapa harga bahan-bahan pokok bisa naik.

    Cati memperkirakan, naiknya harga bahan pokok karena suplai kurang. "Mungkin ngirimnya kurang. Kalau ngirimnya biasa ya nggak (naik), stabil (harganya)," kata wanita yang suaminya juga pedagang itu. Dia pun mengeluh karena kemungkinan tidak bisa mudik saat lebaran nanti. "Tahun ini nggak tahu deh. Dagangan lagi sepi begini," katanya.

    Berbeda dengan Cati, seorang pedagang daging ayam broiler, Adit, mengatakan naiknya harga daging ayam broiler tidak menyebabkan jumlah pembeli di kiosnya menurun. "Alhamdulillah enggak. Mungkin banyak yang butuh juga," ujar wanita yang berjualan di Pasar Kebayoran Lama sejak 1985 tersebut.

    Setiap harinya, rata-rata Adit bisa menjual sekitar 100 ekor ayam broiler. Satu ekor ayam broiler berbobot sekitar 1-1,3 kilogram. Harga ayam di kios Adit sendiri naik menjadi Rp 28 ribu per kilogram sejak awal Juni lalu. "Kalau seekor ada yang Rp 45 ribu, ada yang Rp 50 ribu," tutur ibu beranak lima tersebut.

    Setiap harinya, Adit mengaku, mendapatkan pasokan daging ayam dari tengkulak. "Ada bosnya. Bosnya yang ngambil, kita yang dianter-anterin," katanya. Harga daging ayam yang dipatok oleh tengkulak mencapai Rp 27 ribu per kilogram. "Saya kadang ambil untung Rp 1 ribu, kadang enggak ngambil juga."

    Sebelum harga daging ayam naik, Adit kerap mengambil untung sekitar Rp 5 ribu. Sebelum Juni ini, harga daging ayam hanya dipatok sekitar Rp 22-23 ribu per kilogram. "Sejak Pak Jokowi malah susah. Sejak Pak Ahok juga, yang jualan pada digusurin semua," kata wanita asal Lamongan yang suaminya juga berdagang ini mengeluh.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.