Jumlah Wisatawan Melonjak, Hotel di Sabang Penuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tugu Titik Nol Kilometer wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia di Desa Iboih Ujong Ba'u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, 9 April 2016. Saat ini tugu tersebut masih dalam pemugaran. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Tugu Titik Nol Kilometer wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia di Desa Iboih Ujong Ba'u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, 9 April 2016. Saat ini tugu tersebut masih dalam pemugaran. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Libur panjang akhir pekan membuat tingkat kunjungan wisatawan di Kota Sabang melonjak drastis sehingga hotel di pulau paling barat Indonesia itu penuh.

    General Manager Hotel Sabang Guese House, T Septa Syahriza dmengatakan, libur panjang membuat jotelnya sudah "full booked" jauh-jauh hari dan rata-rata wisatawan hendak mengunjungi Pulau Weh.

    "Kita hanya ada 12 kamar dan semua sudah penuh, dominan wisatawan yang memesan kamar berasal dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat," katanya.

    Meski hotel ini sudah penuh, wisatawan lokal maupun mancanagara tetap saja memesan kamar melalui telepon.

    "Saya tidak menolaknya dan menawarkan kepada tamu tersebut kepada hotel lainnya serta home stay," akuinya.

    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sabang Zulfi Purnawati menawari tamu untuk bermalam di home stay.

    "Meskippun hotel sudah pada penuh semua, tapi masih ada penginapan warga jenis home stay yang siap melayani para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Weh," kata Zulfi.

    Sabang belum memiliki hotel berbintang karena baru ada hotel non bintang, cottage, bungalow dan home stay.

    "Meski hotel-hotel non bintang, tapi semua penginapan itu dipastikan sesuai dengan standar. Kita juga sudah mengimbau kepada warga Pulau Weh yang memiliki kamar-kamar kosong dapat menyewakannya kepada para wisatawan," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.