Chevron Bantah Isu Pemecatan Karyawan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chevron.  AP/Lynne Sladky

    Chevron. AP/Lynne Sladky

    TEMPO.CO, Jakarta - Senior Vice President Policy, Government, and Public Affair PT Chevron Indonesia Yanto Sianipar membantah kabar yang menyebutkan kalau pihaknya memberhentikan sejumlah karyawan. Menurut dia, yang benar adalah mereka memutuskan untuk mengundurkan diri.

    "Bukan PHK. Judulnya memang memutuskan untuk mengundurkan diri secara sukarela," kata Yanto saat ditemui dalam acara Investment Week 2016 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 5 Mei 2016.

    Yanto menjelaskan perusahaan memberikan penawaran kepada karyawan untuk mengundurkan diri secara sukarela. Namun jika tak diambil tak masalah, dan karyawan tersebut tetap bekerja.

    Baca: Menteri Rizal Ancam Pengembang Reklamasi Pulau C dan D

    Lebih lanjut, Yanto mengungkapkan bahwa Chevron memang memiliki program penyesuaian model bisnis sejak tahun lalu. Hal ini dilakukan untuk menyikapi perubahan yang terjadi di perusahaan tersebut, dan perubahan itulah yang menyebabkan organisasi yang ada berubah.

    Yanto juga menolak jika dikatakan ini adalah efisiensi. Ia tetap bersikukuh bahwa ini adalah penyesuaian terhadap model bisnis yang baru dari perusahaannya. Mengenai jumlah karyawan yang sudah mengundurkan diri itu, Yanto juga enggan memberitahukannya. "Masih proses, kami enggak bisa kasih tahu jumlah."

    Diketahui Chevron Indonesia berencana melakukan pengurangan karyawan. Salah satu caranya adalah memberi pilihan kepada para pegawainya untuk mengundurkan diri. Chevron dikabarkan akan segera memangkas 2.000 karyawannya di Indonesia secara bertahap.

    DIKO OKTARA

    Baca:
    Heboh, Mahasiswi Cantik Kepergok Mau Suap Polisi Rp 75 Ribu
    Pembunuhan Feby UGM: Dipicu Susu buat Anak dan Setan Lewat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.