Tak Jadi Tujuan Wisata, Okupansi Hotel di Makassar Anjlok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • theoffice.it

    theoffice.it

    TEMPO.CO, Jakarta - Tingkat okupansi perhotelan di Makassar diprediksi susut hingga di kisaran 45% sepanjang liburan panjang pekan ini. Kondisi tersebut disinyalir dipicu lantaran posisi Makassar yang belum menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Tanah Air.

    Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, mengatakan sepanjang long weekend periode Kamis (5 Mei 2016) hingga Minggu (8 Mei 2016), tingkat keterian kamar hotel dipastikan jauh berada di bawah rerata harian normal di kisaran 65%.

    "Keadaan ini berbeda jauh dibandingkan dengan Bali dan Jogja misalnya, momentum long weekend jadi berkah. Sedangkan di Makassar sangat anjlok," katanya kepada Bisnis, Rabu (4 Mei 2016).

    Di sisi lain, orientasi Makassar yang masih bergantung pada segmen MICE justru memperburuk tingkat okupansi perhotelan saat memasuki long weekend. Menurut Anggiat, performa industri perhotelan Makassar sangat bergantung pula pada agresivitas pemerintah daerah dalam menarik angka kunjungan wisatawan untuk durasi yang lebih panjang dibandingkan dengan kondisi normal.

    Di sisi lain, peluncuran aplikasi pariwisata berbasis daring 'exploreSouthSulawesi' bisa menjadi momentum kebangkitan Makassar maupun Sulsel secara keseluruhan sebagai salah satu destinasi favorit di Tanah Air.

    "Memang efeknya tidak bisa instan, tetapi konsep ini mesti segera diimplementasikan oleh pemda tingkat kabupaten/kota agar lebih mengakselerasi pembenahan destinasi unggulan potensial," papar Anggiat.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.