Hadapi MEA, Bahasa Inggris Jadi Kelemahan Pekerja Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah merakit televisi LG di pabrik LG di kawasan industri MM2100 Cibitung, Jawa Barat, 13 April 2016. LG berencana akan jadikan Indonesia pusat produksi TV premium. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah merakit televisi LG di pabrik LG di kawasan industri MM2100 Cibitung, Jawa Barat, 13 April 2016. LG berencana akan jadikan Indonesia pusat produksi TV premium. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CODepok - Bank Dunia mencatat kesenjangan besar antara kualitas pekerja terampil Indonesia dan pekerja dari negara-negara lain dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang mulai diberlakukan tahun ini. Salah satu masalah utama para pekerja dalam negeri adalah kemampuan berbahasa Inggris.

    "Penggunaan bahasa Inggris masih minim," kata pelaksana tugas Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri, Salman Al-Farisi, di Hotel De Margo, Depok, Senin malam, 2 Mei 2016. 

    Sedangkan negara-negara lain di ASEAN yang melihat Indonesia sebagai pasar besar bagi pekerja mereka, kata Salman, berusaha mempelajari bahasa Indonesia agar bisa bersaing dengan pekerja lokal.

    Salman mencontohkan Thailand, yang telah membuka kursus bahasa Indonesia secara besar-besaran di negaranya. Tujuannya agar mereka bisa mengirim warganya dan bersaing dengan pekerja Indonesia. "Pekerja Indonesia harus mampu bersaing," tuturnya.

    Lebih lanjut Salman menjelaskan, untuk menghadapi MEA, Presiden Joko Widodo telah membuat tiga regulasi. Pertama, mempermudah investasi di Indonesia agar mempermudah pembangunan infrastruktur yang menunjang pertumbuhan ekonomi negara. "Bisa dilihat, dalam waktu kurang dari dua tahun, pembangunan jalan tol banyak yang telah rampung. Pembukaan jalur kereta dan pelabuhan juga dilakukan," ucapnya.‎

    ‎Regulasi kedua adalah penyediaan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi keahlian. Presiden mendorong program pendidikan vokasi kejuruan. "Jangan lulusan SMA semuanya ingin menjadi sarjana. Sarjana itu untuk akademikus. Presiden ingin memperbanyak program vokasi yang siap kerja," katanya.

    ‎Terakhir, Presiden ingin memperkuat Indonesia sebagai negara yang menjadi poros maritim. "Ketiga arahan itu diperkuat untuk menghadapi persaingan global," ucapnya.

    Salman menyadari MEA mudah disalahkan karena membuka persaingan antarwarga negara di pasar tenaga kerja. Sebagian kalangan bahkan khawatir Indonesia bakal kebanjiran tenaga asing. 

    Apalagi, kata dia, keberadaan orang asing bisa menimbulkan potensi masalah mengingat angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi dibanding negara ASEAN lain. Angka pengangguran di Indonesia mencapai 5,8 persen dari total penduduk, Thailand 0,8 persen, Singapura 2 persen, dan Malaysia 2,9 persen.‎

    Meskipun demikian, Salman optimistis Indonesia bisa menghadapi semua tantangan itu. 
    "Indonesia tidak hanya bisa bertahan dalam MEA, tapi juga menjadi juara di ASEAN," katanya.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.