Kebijakan Dideregulasi, Investasi Cina di RI Terdongkrak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    Kepala BKPM Franky Sibarani (kiri) berbincang dengan Deputi bid Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Azhar Lubis (kanan) sebelum memberikan keterangan kepada wartawan tentang target pertumbuhan investasi 2016 di Jakarta, 8 Januari 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah mengklaim, sejumlah paket deregulasi kebijakan telah berdampak positif terhadap realisasi penanaman modal di Indonesia. Terlihat sepanjang kuartal pertama, atau Januari-Maret lalu, realisasi penanaman modal mencapai Rp 146,5 triliun.

    “(Realisasi investasi) Meningkat 17,6 persen dibanding periode sebelumnya, Rp 124,6 triliun,” ujar Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani di Jakarta, Senin, 25 April 2016.

    Dari realisasi investasi itu, ucap Franky, terserap 327 ribu tenaga kerja. Ia pun yakin, target realisasi investasi 2016, yang dipatok Rp 595 triliun, bisa tercapai. Menurut dia, pemerintah punya komitmen untuk menjaga dan memperbaiki iklim investasi. Kehadiran paket kebijakan deregulasi merupakan salah satu jawabannya. “Kami akan mengawal agar proyek investasi bisa tuntas atau memasuki tahap komersial,” katanya.

    Presiden Joko Widodo yakin, kenaikan investasi tak lepas dari keberhasilan sejumlah paket kebijakan deregulasi direspons positif oleh kalangan investor. “Total kesepakatan business to business mencapai US$ 20,5 miliar,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

    Selain naiknya realisasi investasi, Franky menilai positif soal keseriusan Cina menanamkan modalnya di Indonesia. Realisasi investasi Cina pada triwulan I 2016 melonjak 400 persen menjadi US$ 0,5 miliar dibanding periode yang sama sebelumnya.

    Tak hanya Cina, hasil kunjungan ke empat negara Eropa, yaitu Jerman, Inggris, Belanda, dan Belgia, mendapat sambutan positif. Presiden Joko Widodo menerangkan ada komitmen kerja sama dengan empat negara itu. Dengan Jerman, Indonesia berfokus kerja sama dalam hal pelatihan dan pendidikan vokasi.

    Dari Inggris, kedua negara ingin meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi dan industri kreatif. Sedangkan dengan Belgia dan Uni Eropa, dibahas ketentuan dasar (scoping papers) mengenai Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Sementara itu, dengan Belanda, akan ada kerja sama di sektor maritim dan pengelolaan air.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.