Awal Mei, IHSG Berpeluang Rebound  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    Seorang karyawan mengamati pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Analis First Asia Capital, David Sutyanto, mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak bervariasi dalam rentang konsolidasi berpeluang rebound terbatas di perdagangan Senin, 2 Mei 2016. IHSG diperkirakan bergerak dengan support di 4.810 dan resistent di 4.870.

    "Sentimen positif akan digerakkan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang diperkirakan bisa tumbuh di atas 5 persen setelah kuartal sebelumnya tumbuh 4,74 persen (yoy)," kata David dalam siaran persnya, Senin, 2 Mei 2016. Menurut David, angka inflasi April yang diperkirakan mencatatkan deflasi juga menjadi sentimen positif.

    David mengatakan sejumlah saham berbasis komoditas akan terbatas pergerakannya. Data aktivitas manufaktur Cina pada April melambat dengan angka indeks 50,1 di bawah estimasi sebelumnya 50,3. "Itu akan membatasi pergerakan sejumlah saham, terutama yang berbasiskan komoditas," katanya. 

    Perdagangan di awal Mei juga dimulai dengan fraksi harga baru. Bursa Efek Indonesia kini menetapkan lima fraksi harga saham. Harga saham kurang dari Rp 200 memiliki fraksi Rp 1 dengan masa jenjang perubahan Rp 10. Harga saham Rp 200-500 sebesar Rp 2 dengan masa jenjang perubahan Rp 20.

    Harga saham Rp 500-2.000 memiliki fraksi sebesar Rp 5 dengan masa jenjang perubahan Rp 50. Harga saham Rp 2.000-5.000 memiliki fraksi Rp 10 dengan masa jenjang perubahan Rp 100. Adapun harga saham di atas Rp 5.000 memiliki fraksi Rp 25 dengan masa jenjang perubahan Rp 250. 

    Akhir pekan lalu, IHSG tutup di 4.838,583 atau terkoreksi 9,807 poin. IHSG berhasil mengurangi koreksi di akhir sesi yang sempat mencapai 17 poin. David mengatakan tekanan jual kembali mendominasi perdagangan akhir pekan lalu.

    Sentimen pasar terutama dipicu kekecewaan atas rilis laba kuartal pertama sejumlah emiten sektoral yang kurang menggembirakan, terutama di sektor perbankan, akibat kenaikan NPL. Pergerakan IHSG juga terimbas sentimen negatif pasar saham kawasan dan global. Bank sentral Jepang (BoJ) tidak menambah alokasi stimulusnya. Data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat di kuartal pertama melambat, tumbuh 0,5 persen (qoq) jauh di bawah pertumbuhan kuartal sebelumnya 1,4 persen (qoq).

    Selama sepekan terakhir, IHSG bergerak bearish koreksi 1,55 persen, terutama akibat rilis laba kuartal pertama sejumlah emiten sektoral di bawah perkiraan sebelumnya. Sepanjang April lalu, IHSG terkoreksi tipis 0,5 persen setelah tiga bulan pertama tahun ini mencatatkan penguatan.

    Perkembangan pasar saham global akhir pekan lalu masih ditandai dengan aksi jual. Di Wall Street, indeks DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 0,32 persen dan 0,51 persen, tutup di 17.773,64 dan 2.065,34. Sepekan terakhir, indeks DJIA dan S&P masing-masing terkoreksi 1,3 persen. Tekanan jual terutama akibat sentimen pencapaian laba kuartal pertama sejumlah perusahaan dan data ekonomi Amerika yang kurang menggembirakan.

    Namun sepanjang April indeks DJIA dan S&P berhasil menguat masing-masing 0,5 persen dan 0,3 persen menandai penguatan untuk tiga bulan berturut-turut. Penguatan pasar saham global April lalu terutama ditopang rally harga komoditas energi dan tambang logam lainnya. Harga minyak mentah sepanjang April lalu menguat hingga 20,68 persen di US$ 45,99/barel.
     
    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.