Dorong Ekonomi, OJK: Reformasi Struktural Mendesak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Darmansyah Haddad memberikan sambutan saat sosialisasi program Jaring di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kec. Sumber Manjing, Malang, Jawa Timur, 13 November 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Darmansyah Haddad memberikan sambutan saat sosialisasi program Jaring di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pondok Dadap Sendang Biru, Desa Tambakrejo, Kec. Sumber Manjing, Malang, Jawa Timur, 13 November 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad mengatakan bahwa reformasi struktural semakin diperlukan agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. "Maka perlu mewujudkan reformasi struktural, tanpa itu sulit peroleh tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi," kata Muliaman saat ditemui di Bank Indonesia, Kamis, 28 April 2016.

    Muliaman menjelaskan, untuk negara seperti Indonesia, pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6 persen tidak cukup. Karena adanya tambahan tenaga kerja dan jumlah penduduk yang besar di tiap tahunnya.

    Oleh sebab itu, Muliaman memandang perlu ada sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan OJK tentang bagaimana mengelola stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui reformasi struktural. "Keduanya tak mudah dan sederhana. Perlu sinergi, koordinasi, dan kolaborasi."

    Berbagai paket kebijakan yang diambil pemerintah, kata Muliaman, adalah untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia, dengan melakukan ease of doing bussiness. "Ini penting untuk wujudkan reformasi struktural," ujarnya.

    Muliaman menjelaskan, reformasi struktural juga dibutuhkan karena kondisi pasar keuangan yang masih dangkal. Maka ketika ada sentimen yang kurang menguntungkan terjadi, dampaknya akan terasa. "Maka kita perlu bangun iklim yang bukan hanya undang masuk modal portofolio, tapi juga penanaman modal langsung."

    Indonesia, kata Muliaman, sudah mengalami pengalaman yang relatif sama dalam beberapa tahun terakhir ketika ada sentimen di tingkat global. Ketika itu terjadi, akan ada aliran dana ke luar negeri (outflow). "Kita beruntung Fed Rate tetap. Kalau kemudian ada perubahan, saya yakin akan pengaruhi sentimen. Kita belum optimal membangun."

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.