Akibat Kekeringan, Produksi Kopi Turun Tahun Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Jose Miguel Gomez

    REUTERS/Jose Miguel Gomez

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia atau AEKI memprediksi produksi kopi Indonesia tahun 2016 akan kembali turun atau tinggal sekitar 625.000 ton sebagai dampak kekeringan beberapa waktu lalu.

    "El Nino memang sudah diprediksi dan dikhwatirkan sejak tahun lalu dan itu membuat prediksi adanya penurunan produksi kopi nasional dari 680.000 ton tahun 2015 menjadi hanya sekitar 625.000 ton pada 2016," kata Ketua Umum AEKI, Irfan Anwar, di Medan, Kamis (28 April 2016).

    Dia mengatakan itu disela Rapat Umum Anggota (RUA) Daerah IX AEKI Sumut dengan agenda pemilihan ketua periode 2016-2021 yang dibuka oleh Pelaksana Tugas Gubernur Sumut H T Erry Nuradi.

    Menurut Irfan, produksi kopi Indonesia dalam beberapa tahun memang terus turun terdampak kondisi cuaca, tanaman tua, peralihan tanaman robusta ke arabika hingga penebangan pohon dan mengganti dengan tanaman lain.

    Produksi kopi tertinggi masih terjadi di tahun 2012 sebanyak 750.000 ton. Adapun luas lahan kopi nasional berkisar 1,2 juta hektare, dimana yang produktif tinggal sekitar 950.000 hektare. "Penurunan produksi itu harus diatasi bersama khususnya pemerintah dengan memberi kemudahan perizinaan kepada pengusaha membuka kebun kopi, pemberian bibit unggul dan pupuk ke petani," kata Irfan yang juga pendiri Coffindo.

    Peningkatan produksi baik dengan cara peningkatan areal dan produktivitas kopi dinilai penting mengingat kopi masih akan tetap dan semakin menjadi komoditas andalan ekspor maupun pasar dalam negeri. Kopi itu andalan karena pasar luar negeri sangat membutuhkan kopi Indonesia yang memiliki banyak jenis dengan rasa khas yang berbeda seperti hasil Sumut.

    Pasar di dalam negeri semakin membaik dengan meningkatnya tren minum kopi khususnya di kalangan anak muda yang jumlahnya cukup besar secara nasional. "Kopi masih menjanjikan, apalagi harga jual masih lumayan bagus dengan tren meningkat. Jadi perlu terus dikembangkan yang memerlukan dukungan termasuk dari pemerintah," katanya.

    Irfan menegaskan, peningkatan produksi juga harus diikuti dengan kualitas yang semakin baik pula agar tidak kalah bersaing dengan kopi yang dihasilkan negara produsen lain seperti Brazil, Vietnam dan Kolumbia. Indonesia dewasa ini masih menjadi negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia, setelah Brazil dan Vietnam.

    Pelaksana tugas Gubernur Sumut H T Erry Nuradi menegaskan, Pemprov Sumut siap mendukung dan bekerja sama dengan AEKI untuk mengembangkan produksi dan kualitas kopi Sumut. Dia mengakui bahwa kopi sejak lama menjadi andalan ekspor Sumut.

    Luasan kopi Sumut berdasarkan data Dinas Perkebunan Sumut yang sekitar 82.085,25 hektare dengan produksi 58.054, 03 ton itu harus ditingkatkan termasuk menyangkut soal kualitas. "Pemerintah Provinsi Sumut siap bekerja sama dengan AEKI mengembangkan produksi dan kualitas kopi Sumut," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.