Kemacetan Mudik Diprediksi Meningkat Meski Ruas Tol Ditambah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kemacetan kendaraan pemudik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ilustrasi kemacetan kendaraan pemudik. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Transportasi Indonesia memprediksi arus mudik lebaran tahun ini masih akan mengalami kemacetan sekalipun sudah ada tambahan ruas tol Pejagan-Brebes Timur dan Bawen-Salatiga.

    Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memprediksikan penambahan ruas jalan tol belum akan menurunkan angka kemacetan saat mudik lebaran. Pasalnya, penambahan ruas jalan tol justru mendorong pula penambahan jumlah kendaraan pribadi yang digunakan pemudik.

    “Penambahan jalan akan memancing penambahan jumlah kendaraan pribadi yang digunakan pemudik,” kata Djoko dalam siaran pers yang diterima, Rabu, 27 April 2016.

    Menurut kajian dari Kementerian Koordinator Perekonomian pada 2008, diperlukan delapan jalur jalan untuk mudik yang lancar. Adapun kini bagi sebagian pemudik ada jalan tol, sehingga total jalur baru tersedia empai jika ditambah dengan Jalur Pantura.

    “Berlimpahnya penggunaan pribadi untuk mudik juga disebabkan buruknya layanan transportasi umum di daerah. Pemudik selain pulang kampung halaman juga ingin silahturahmi ke kerabat. Tidak bisa lagi mengandalkan transportasi umum. Kendaraan pribadilah pilihannya. Mau sewa di daerah tujuan juga mahal, harga sewanya dua kali dibandingkan hari biasa,” ungkap Djoko.

    Tak hanya itu, faktor sosial juga menyebabkan warga terdorong membawa mobil pribadi. Pasalnya, jika mudik dengan membawa kendaraan pribadi itu menjadi simbol keberhasilan yang harus ditunjukan kepada keluarga di kampung halaman.

    Djoko mengkritik para kepala daerah yang sejak era reformasi tidak memperhatikan kondisi transportasi umum yang semakin buruk. Tak hanya itu, dia juga mengingatkan jumlah pemudik menggunakan motor masih akan meningkat meski pemerintah sudah mengupayakan mudik gratis sepeda motor dengan truk, kapal laut, dan kereta guna menurunkan angka kecelakaan.

    “Keinginan pemudik menggunakan sepeda motor karena langkanya angkutan di desa-desa. Selain itu, biaya mudik memakai sepeda motor lebih murah 40% ketimbang naik bus,” sambungnya.

    Djoko menilai perlu ada terobosan untuk mengatasi kemacetan setiap mudik. Termasuk juga solusi pasar tumpah dan perlintasan sebidang kereta api dan jalan raya yang masih menjadi penyebab kemacetan di beberapa titik. “Kepada daerah harus dipaksa memperbaiki transportasi umum dengan berbagai tawaran skema subsidi,” tuturnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.