Swiss Hanya Akui Jepang dan Australia sebagai Pemasok Kakao

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kakao yang sudah kering setelah dijemur di Desa Gantarang Keke, Sulawesi Selatan, 8 Mei 2015. Indonesia merupakan negara produsen kako terbesar ketiga di dunia. REUTERS/Yusuf Ahmad

    Kakao yang sudah kering setelah dijemur di Desa Gantarang Keke, Sulawesi Selatan, 8 Mei 2015. Indonesia merupakan negara produsen kako terbesar ketiga di dunia. REUTERS/Yusuf Ahmad

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Sulawesi Barat Anwar Adnan Saleh kecewa mendapati kenyataan Swiss tidak mengakui produk kakao Indonesia. Padahal Indonesia adalah salah satu pemasok terbesar kakao ke negeri itu.

    "Kakao yang diolah di Swiss adalah kakao dari Indonesia. Namun ternyata negara itu tidak mengakuinya setelah pemerintah daerah Sulawesi Barat berkunjung ke negara itu," kata Anwar di Mamuju, Rabu, 27 April 2016.

    Belum lama ini, pemerintah daerah Sulawesi Barat mengunjungi pabrik cokelat Cailler Nestle di Kota Interlaken, Swiss. Namun, di sana, pemda malah mendapati Indonesia tidak terdaftar dan tidak dianggap sebagai pemasok kakao ke pabrik tersebut.

    "Padahal pabrik tersebut mengolah kakao yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Ini sangat mengecewakan," ucap Anwar.

    Dalam kunjungan ke Swiss itu, pemda Sulawesi Barat melihat langsung pembuatan cokelat yang siap saji dan mengunjungi museum sejarah masuknya kakao ke Eropa.

    "Beberapa negara terpajang di museum tersebut sebagai negara pemasok kakao ke pabrik cokelat Cailler Nestle. Tapi nama Indonesia tidak terdaftar di museum tersebut. Padahal sebagian besar kakao tersebut berasal dari Indonesia, dan Sulawesi Barat adalah penghasil kakao terbesar di Indonesia," tutur Anwar.

    "Akan dilaporkan kepada Presiden Jokowi bahwa Swiss hanya mengakui Jepang dan Australia sebagai pemasok kakao, sementara Indonesia tidak diakui," kata Anwar.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.