Kurangi Garam Impor, Pemerintah Dorong Industri Lokal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi garam. ANTARA/Saiful Bahri

    Ilustrasi garam. ANTARA/Saiful Bahri

    TEMPO.COJakarta - Menteri Perindustrian Saleh Husin menyatakan dukungannya terhadap perkembangan industri produsen garam lokal untuk pemenuhan industri pangan, baik makanan maupun minuman dalam negeri.

    Saleh menyampaikannya pada saat mengunjungi pabrik garam industri milik PT UNIChem Candi Indonesia di Gresik, Jawa Timur, Selasa, 26 April 2016.

    Saleh menuturkan, produksi garam ini sejalan dengan program pemenuhan kebutuhan bahan baku industri nasional. “Kemampuan produksi sendiri ini juga demi mengamankan salah satu industri pemakai garam, yaitu industri makanan minuman. Jika bisa memproduksi garam sendiri, ketergantungan berkurang dan kontinuitas produksi lebih terjamin,” katanya dalam keterangan tertulisnya.

    Menurut Saleh, industri pengolahan makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang membutuhkan garam, selain industri kertas, kaca, kimia, farmasi, dan pengeboran minyak. "Kebutuhan garam nasional diperkirakan sekitar 2,6 juta ton, dan sektor industri yang paling banyak menggunakan garam adalah industri chlor-alkali plant (soda kostik), aneka pangan, dan farmasi," katanya.

    Saleh juga menegaskan, nilai manfaat dari garam bagi industri pangan sangat berlipat-lipat. Perhitungannya, dengan merujuk data tahun 2013, total impor garam industri untuk industri makanan minuman hanya sekitar US$ 17 juta, tapi nilai ekspor produk industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku garam mencapai US$ 4,83 miliar. "Aktivitas produksi terus berjalan, investasi masuk, dan tenaga kerja terserap," ujarnya.

    ABDUL AZIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.