Tak Ada Sentimen Positif, IHSG Terkoreksi 64,77 Poin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, nilai tukar rupiah yang terkoreksi terhadap dolar AS memberikan sentimen negatif bagi pasar saham domestik sehingga indeks BEI tertahan penguatannya. TEMPO/Tony Hartawan

    Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, nilai tukar rupiah yang terkoreksi terhadap dolar AS memberikan sentimen negatif bagi pasar saham domestik sehingga indeks BEI tertahan penguatannya. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COJakarta - Indeks harga saham gabungan dalam penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 26 April 2016, melemah 1,33 persen atau 64,77 poin ke posisi 4.814,09.

    Kepala Riset NHK Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan pembalikan arah IHSG yang melemah dalam perdagangan sebelumnya memberikan sentimen negatif pada laju IHSG. "Laju bursa saham global yang cenderung negatif pun tidak mendukung laju bursa," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa ini.

    Indeks saham dibuka turun 0,26 persen atau 12,71 poin ke level 4.866,15. Pada akhir sesi pertama, IHSG hampir meninggalkan level 4.800. IHSG koreksi 1,50 persen atau 73,40 poin ke level 4.805,46.

    Saham dari berbagai sektor mengalami koreksi dalam perdagangan hari ini, kecuali sektor agribisnis +2,63 persen dan perdagangan +0,04 persen. Adapun sektor yang melemah adalah saham sektor infrastruktur -2,11 persen; keuangan -1,89 persen; dan consumer -1,86 persen.

    Asing melakukan net sell sebanyak Rp 812 miliar, di mana yang paling banyak dibeli adalah PGAS, GGRM, AKRA, BBTN, dan BSDE. Sedangkan yang paling banyak dijual adalah BBRI, BBNI, TLKM, BMRI, dan HMSP.

    Saham top gainers dalam perdagangan hari ini adalah IIKP, NIKL, MCOR, LCGP, dan SIMP. Sedangkan top losers adalah SAFE, ERTX, DART, ARNA, dan RIGS.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.