Harga Minyak Naik, Rupiah Diperkirakan Menguat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, memprediksi support (batas atas) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika hari ini berada pada level 13.145 dan resisten (batas bawah) pada level Rp 13.129 per dolar Amerika. Kemarin, nilai tukar rupiah ditutup menguat di level Rp 13.133 per dolar Amerika. “Laju penguatan rupiah diharapkan dapat berlanjut,” ujar Reza melalui siaran pers, Kamis, 21 April 2016.

    Keberlanjutan penguatan rupiah ini, menurut Reza, seharusnya dapat terjadi karena masih ada potensi kenaikan lanjutan dari harga minyak mentah dunia. Belum lagi imbas rencana paket kebijakan ekonomi dari pemerintah.

    Reza mengatakan sentimen positif untuk laju rupiah hari ini masih sama seperti kemarin. Imbas kenaikan sejumlah komoditas seiring dengan belum adanya tanda-tanda dari The Fed, Bank Sentral Amerika, untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan memberikan kesempatan bagi rupiah untuk ikut berbalik positif.

    Penguatan juga didukung adanya sentimen positif dari dalam negeri mengenai rencana pemerintah yang akan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi tahap XII. Pemerintah kabarnya akan mengumumkan paket kebijakan ekonomi XII sebagai kelanjutan dari upaya deregulasi ekonomi.

    Paket kebijakan itu rencananya diluncurkan setelah Presiden Joko Widodo kembali dari Eropa. Presiden berkunjung ke Eropa pada 17-23 April 2016. Namun, terkait dengan prediksi rupiah yang masih akan berada di zona hijau hari ini, Reza berpesan kepada investor agar tetap cermat. “Tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju rupiah.”

    BAGUS PRASETIYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.