Potensi Industri Penerbangan Indonesia Capai US$2 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan dua armada baru tersebut guna memperluas dan meningkatkan jaringan penerbangan Garuda Indonesia di wilayah Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Eropa. TEMPO/Tony Hartawan

    Pesawat terbang komersil Airbus A330-300 di hanggar Garuda Maintenance Facility, Cengkareng, Tangerang, 1 Februari 2016. PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendatangkan dua armada baru tersebut guna memperluas dan meningkatkan jaringan penerbangan Garuda Indonesia di wilayah Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Eropa. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Potensi bisnis industri perawatan dan perbaikan pesawar (maintenance, repair and overhaul/MRO) di Indonesia dalam 4 tahun ke depan diprediksi meningkat menjadi US$2 miliar dari saat ini US$920 juta.

    "Indonesia akan menjadi pertumbuhan industri MRO di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2022," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin pada Konferensi Aviation Maintenance Repair and Overhaul Indonesia (AMROI) ke-4 di Jakarta, Rabu (20 April 2016).

    Dia mengemukakan sejak peraturan pemerintah mengenai industri jasa penerbangan di Indonesia mulai dilonggarkan pada tahun 2000, pertumbuhan jasa penerbangan Indonesia melonjak tajam dalam satu dekade terakhir.

    “Sejumlah industri penerbangan saat ini bersaing ketat merebut pasar domestik dan regional,” ungkapnya.

    Menurutnya, Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta dan wilayah yang cukup strategis, membutuhkan sarana transportasi udara untuk mendukung konektifitas antar pulau dan wilayah.

    Wilayah Indonesia mencakup sebaran lebih dari 17.000 pulau, membentang sepanjang 5.200 km dari timur ke barat dan 2.000 km dari utara ke selatan.

    "Hal ini menjadi pasar yang sangat potensial bagi para investor dunia untuk membangun industri penerbangan di Indonesia".

    Laporan International Air Transport Association(IATA) menyebutkan jumlah penumpang udara nasional akan mencapai 270 juta penumpang pada tahun 2034 atau naik lebih dari 300% dibanding pada tahun 2014 dengan 90 juta penumpang.

    "Pada 2020, Indonesia diprediksi akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia, bahkan akan menjadi lima besar dunia pada tahun 2034,” tuturnya.

     

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.