Indonesia Dinilai Terjebak Jadi Berpenghasilan Menengah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan  pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menjadi narasumber diskusi yang membahas kebijakan pengelolaan BBM di Jakarta, 27 Desember 2014. Diskusi tersebut menyoroti rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas untuk menghapus BBM jenis Premium (RON 88) ke BBM RON 92 atau setara dengan pertamax agar APBN-P tidak selalu berubah tiap tahunnya. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Faisal Basri memaparkan hasil penelitiannya bersama Gatot Arya Putra yang berjudul Mengelak dari Jebakan Penghasilan Menengah di Indonesia hari ini, Senin, 18 April 2016, di Gedung Yustisia Universitas Atma Jaya, Jakarta.

    Menurut Faisal, Indonesia masuk ke dalam jebakan pendapatan menengah. Ada dua hal yang menyebabkan Indonesia sulit keluar dari jebakan itu, yakni Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain soal penyerapan lulusan sekolah menengah dalam dunia kerja dan nilai ekspor kinerja ekspor teknologi tinggi terhadap total ekspor yang rendah.

    "Ini saatnya revolusi cara berpikir. Kita telah abai terhadap aspek manusia, modal, dan hamoni," katanya dalam paparan hasil penelitian. Faisal menyatakan, banyak modal yang dimiliki Indonesia masih merupakan peninggalan Belanda.

    Pemerintah, dia meneruskan, wajib memberikan akses pendidikan dan kesehatan agar tidak terjadi ketimpangan di masyarakat. Dengan demikian, Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menegah. "Kewajiban negara untuk memberdayakan yang tidak mampu supaya mereka punya akses terhadap aset produktif. Supaya punya akses terhadap itu, pendidikan harus baik."

    Faisal menjelaskan, pada 2000 Indonesia menempati posisi ke-16 perekonomian terbesar dunia berdasarkan Paritas Daya Beli (PDB). Pendapatan Domestik Bruto perkapita Indonesia yaitu 4.725. Sedangkan Nilai PDB India dan Cina yakni 3.917 dan 8.919.

    PDB Indonesia pada 2011 berubah 1,6 kali dibandingkan PDB pada tahun 2000. Sedangkan perubahan PDB yang dialami India dan Cina yakni 2,1 kali dan 2,3 kali. Dibandingkan negara lainnya, Indonesia tergolong lamban perubahannya.

    Oleh sebab itu, Faisal berpendapat, begitu besar upaya yang harus dilakukan Indonesia untuk mencapai pendapatan tinggi. "Betapa berat kita menghindar dari jebakan pendapatan menengah," ujarnya.

    PDB per kapita Indonesia berdasarkan paritas daya beli adalah 10.517 pada tahun 2014. Nilai tersebut pada tahun 2015 berubah menjadi 10.651. Karena sudah mencapai nilai 10.000 untuk PDB per kapita berdasarkan paritas daya beli, Indonesia termasuk negara berpendapatan menengah.

    SHELA KUSUMANINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.