Krisis Teknisi Penerbangan, Butuh 1.000 Tersedia 200 Orang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Jasa Perawatan Pesawat Indonesia atau  Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) turut berupaya  mendongkrak kapasitas sumber daya manusia industri perawatan pesawat melalui penambahan politeknik dirgantara.

    IAMSA mencatat, Indonesia kekurangan teksnisi penerbangan karena sekolah-sekolah teknisi penerbangan di Indonesia hanya menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, jauh dari kebutuhan yang mencapai 1.000 orang setiap tahun.

    Ketua Dewan Pimpinan IAMSA Richard Budihardianto mengatakan bisnis penerbangan yang terus bertumbuh, IAMSA memperkirakan Indonesia akan membutuhkan 12-15 ribu tenaga ahli hingga 15 tahun ke depan. Pendirian politeknik, termasuk mengubah politeknik umum menjadi fokus ke teknik dirgantara menjadi upaya menyiasati pemenuhan kebutuhan ini.

    Baca Juga: Dua Kebijakan Pajak Dongkrak Industri Perawatan Pesawat

    "Jadi kami sedang mengebut dan kami optimis mampu mengisi peluang kerja ini,” ucap Richard dalam keterangan tertulis, Rabu 13 April 2016.

    Richard juga mengungkapkan, perusahaan MRO di luar negeri terus meningkatkan kapasitas dan penyediaan fasilitas. Dia menghitung, peluang bisnis MRO didapat dari anggaran pemiliharaan setiap maskapai yang sedikitnya US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,2 triliun per tahun.

    “Dengan kenaikan jumlah penumpang rata-rata 15 persen per tahun dan bahkan lebih maka industri MRO nasional harus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Jika kita tidak bangun sendiri, asing yang akan ambil peluang,” katanya.

    SETIAWAN ADIWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?