PT KAI Sudah Buka Pemesanan Tiket Mudik Lebaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Barisan antrian calon penumpang kereta saat menukarkan tiket Kereta Api di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat (3/8). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Barisan antrian calon penumpang kereta saat menukarkan tiket Kereta Api di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat (3/8). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) sudah mulai membuka pemesanan tiket kereta api untuk Hari Raya Idul Fitri 2016, Senin, 28 Maret 2016. Tiket kereta api yang dibeli pada 28 Maret tersebut untuk keberangkatan 26 Juni 2016 atau H-10 Lebaran.

    “Kami membuka penjualan untuk semua tiket, dari kelas ekonomi, bisnis, hingga eksekutif,” ujar Humas Pusat PT KAI Agus Komarudin melalui telepon pada Kamis, 31 Maret 2016.

    Agus menambahkan, pihaknya baru membuka penjualan tiket tersebut untuk yang reguler saja, bukan tambahan. Tiket reguler memang rutin dijual KAI pada H-90 menjelang Lebaran. Sedangkan untuk gerbong tambahan baru akan dibuka pada H-60 nanti. “Untuk tambahan masih kami rapatkan karena ada rangkaian kereta baru,” katanya.

    Baca Juga: Harga Minyak Bersubsidi Turun Rp 500 

    Agus berujar, pemesanan tiket KA Lebaran tersebut akan berakhir pada 18 April 2016 atau H+10 untuk keberangkatan 17 Juli 2016. Untuk pemesanan tiket setelah Lebaran, dapat dilakukan pada 9 April 2016 untuk keberangkatan 8 Juli 2016.

    Perihal tata cara pembelian tiket, Agus mengatakan caranya masih sama seperti tahun lalu. Masyarakat dapat melakukan pembelian melalui beberapa channel, seperti agen resmi tiket KA, minimarket, Kantor Pos, Pegadaian, dan aplikasi KAI Acces pada ponsel.

    Masyarakat juga dapat membeli tiket KA Lebaran melalui mesin e-kios yang saat ini tersedia tiga unit di Stasiun Pasar Senen, empat unit di Stasiun Gambir, dan satu unit di Stasiun Jatinegara.

    BAGUS PRASETIYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.