Menko Rizal-Wapres Swiss Bahas 3 Pokok Kerjasama Kemaritiman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menjawab pertanyaan dalam acara temu wicara bersama wartawan di rumah dinas, Jakarta, 25 November 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli menjawab pertanyaan dalam acara temu wicara bersama wartawan di rumah dinas, Jakarta, 25 November 2015. Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli bertemu dengan Wakil Presiden Swiss Doris Leuthart membahas kerja sama di bidang kemaritiman seperti pariwisata, energi hingga transportasi massal.

    "Pagi ini kita bahas kerja sama dalam beberapa bidang, pertama pariwisata, kedua tentang energi dan ketiga tentang transportasi publik," katanya di Kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, Rabu (30 Maret 2016).

    Rizal menjelaskan, dalam kerja sama pariwisata, pemerintah Indonesia meminta Swiss bisa membantu mencetak tenaga kerja bidang perhotelan dan pariwisata yang berkualitas.

    Pemerintah Indonesia sendiri akan membangun sekolah pariwisata seluas 20.000 hektare di dekat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, NTB, yang telah ditetapkan sebagai KEK Pariwisata.

    "Kita perlu bantuan tenaga ahli, pengajar dari Swiss untuk ajarkan kita mengenai perhotelan dan turis," ujarnya.

    Selain di sektor pariwisata, Swiss juga disebut Rizal berminat untuk membangun pabrik panel surya di Indonesia.

    "Kebetulan pemerintah Swiss, dalam hal energi hidro, listrik dan surya ini punya pengalaman dan teknologi. Mereka berminat tidak hanya jual, tapi juga mau buat pabrik solar cell di Indonesia. Kita sambut gembira karena kita tidak mau jadi pasar. Kita mau jadi produsen untuk negara ASEAN lainnya," ujarnya.

    Lebih lanjut, Rizal juga meminta bantuan Swiss untuk bisa masuk sektor transportasi publik di Indonesia, khususnya di 20 kota besar di Indonesia selain Jakarta.

    Menurut mantan Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu, pemerintah akan lebih awal menyelesaikan masalah transportasi publik di sejumlah kota besar menyusul pengalaman di Jakarta.

    Jenis transportasi publik itu juga, lanjut Rizal, bisa bermacam-macam mulai dari trem, kereta ringan (light train) atau kereta bawah tanah (subway).

    "Di Swiss banyak yang jago transportasi publik. Kita akan undang mereka untuk lihat peluang di mana mereka bisa bantu kita bangun kereta api, termasuk juga pemeliharaan pesawat," katanya.

    Wapres Swiss Doris Leuthart, dalam kesempatan yang sama, mengatakan hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss telah berlangsung sejak 1952.

    Dalam beberapa tahun belakangan, hubungan kedua negara juga diakuinya terus meningkat.

    "Perdagangan antara Indonesia dan Swiss pada tahun lalu cukup stabil, sekitar 2 miliar dolar AS. Ini volume perdagangan yang cukup bagus," katanya.

    Wapres Doris menyebut, kerja sama antara kedua akan terus dilanjutkan guna memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Swiss.

    "Ada 150 perusahaan Swiss di sini yang kami harap bisa menjadi mitra bagi perusahaan Indonesia. Seiring dengan dukungan pemerintah, kota bisa terus bergerak ke arah yang bermanfaat bagi masyarakat," tutupnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?