Pekalongan Budidayakan Udang & Bandeng di Bekas Lahan Banjir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Arie Basuki

    TEMPO/Arie Basuki

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mendorong para petambak melakukan budidaya udang vaname dan bandeng pada bekas lahan banjir air laut atau air pasang.

    Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Pekalongan, Siswanto di Pekalongan, Rabu (30 Maret 2016), mengatakan produksi udang vaname dan bandeng pada bekas lahan air pasang telah menunjukkan perkembangan yang baik sehingga mampu membantu penghasilan para petambak.

    "Produksi budidaya udang pada 2015 mampu mencapai 27 ton per tahun atau meningkat dibanding tahun sebelumnya 24,4 ton. Karena itu kami akan terus mendorong petambak memperluas budidaya udang pada bekas lahan air pasang," katanya.

    Ia mengatakan pengembangan budidaya udang vaname dan bandeng kini tersebar di sejumlah desa, antara lain Desa Depok dan Blacanan Kecamatan Siwalan, Wonokerto, Desa Api-Api, serta Tratebang Kecamatan Wonokerto.

    Bisnis udang vaname ini, kata dia, memang menggiurkan bagi para petani tambak karena keuntungan yang diperoleh juga besar meski risiko yang dihadapi besar pula.

    Ia mengatakan proses produksi udang vaname pada bekas lahan rob ini akan menggunakan kolam terpal seluas sekitar 100 meter persegi, dan biaya operasional Rp40 juta.

    Untuk menyukseskan keberhasilan program budidaya udang ini, kata dia, pemkab akan memberikan bimbingan teknis secara intensif kepada bantuan bibit dan pompa pada beberapa tambak percontohan pada para petambak.

    Petambak udang vaname, Karyoso mengatakan dirinya mengawali bisnis udang pada lahan bekas lahan bekas air pasang dengan hasil yang cukup memuaskan sehingga hal ini diikuti oleh petambak lain untuk melakukan budidaya udang dan bandeng.

    "Kami memproduksi udang vaname karena lebih menguntungkan. Dengan menabur benih udang sekitar 150 ribu pada lahan seluas sekitar 6.000 meter persegi dan modal serta biaya operasional sekitar Rp100 juta mampu menghasilkan panen dua ton atau setara Rp200 juta per tiga bulan" katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.