Paket Kebijakan Ekonomi Balikkan Arah IHSG

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vokalis grup band Nidji, Giring Ganesha dan istrinya Cynthia Riza berfoto bersama beberapa jajaran Bursa Efek Indonesia usai membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 23 Februari 2016. Giring kerap kali diajak BEI untuk menjadai pembicara dalam sosialisasi yang dilakukan Bursa Efek diberbagai kesempatan. instagram.com/cynthiariza

    Vokalis grup band Nidji, Giring Ganesha dan istrinya Cynthia Riza berfoto bersama beberapa jajaran Bursa Efek Indonesia usai membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 23 Februari 2016. Giring kerap kali diajak BEI untuk menjadai pembicara dalam sosialisasi yang dilakukan Bursa Efek diberbagai kesempatan. instagram.com/cynthiariza

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia kembali ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 30 Maret 2016. IHSG ditutup naik 0,74 persen atau 35,36 poin ke level 4.816,65.

    "Pelemahan IHSG mulai terbatas setelah Paket Kebijakan Ekonomi XI dirilis," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada dalam siaran persnya. Reza mengatakan,  para pelaku pasar terlihat melakukan aksi wait and see menjelang pernyataan dari para petinggi bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve.

    IHSG hari ini dibuka naik 0,33 persen atau 15,86 poin ke level 4.797,15. Bergerak di zona hijau, IHSG kembali menguat 0,58 persen atau 27,67 poin saat ditutup di sesi I. Pada pembukaan sesi II, IHSG masih bergerak positif. IHSG naik 0,7 persen atau 33,29 poin ke level 4.814,59.

    IHSG kemarin bergerak bervariasi dalam rentang terbatas naik-turun 26 poin. Namun IHSG berhasil ditutup di teritori positif dengan menguat tipis 7,671 poin di level 4781,297. Penguatan IHSG kemarin terutama ditopang rebound saham sektor konsumsi seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan saham sektor perkebunan.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.