Libur Paskah, Penumpang di Bandara Juanda Naik 13 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terminal 1 Keberangkatan di Bandar Udara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, 26 Oktober 2015. Tempo/Rully Kesuma

    Terminal 1 Keberangkatan di Bandar Udara Juanda, Surabaya, Jawa Timur, 26 Oktober 2015. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Jumlah penumpang pesawat dari dan ke Bandar Udara Internasional Juanda Sidoarjo diprediksi naik sebesar 13 persen selama libur Paskah dan akhir pekan ini. Peningkatan jumlah penumpang juga diikuti dengan peningkatan jumlah penerbangan.

    Khusus peningkatan jumlah penerbangan terjadi 1,5 persen dibandingkan jumlah penerbangan pada libur akhir pekan biasa. "Tambahan didominasi penerbangan domestik," kata Humas PT Angkasa Pura I, Liza Anindya, saat dihubungi, Jumat 25 Maret 2016.

    Liza mengatakan, rata-rata jumlah penumpang di Bandara Juanda pada libur akhir pekan biasa mencapai 50.347 penumpang. Sementara pada libur panjang pada pekan ini diperkirakan meningkat menjadi 57.165 penumpang. Adapun jumlah penerbangan naik dari 410 menjadi 416 penerbangan.

    Tujuan penumpang domestik, kata dia, tujuan ke Jakarta (Soekarno-Hataa) paling tinggi yakni sekitar 27,01 persen. Di susul Balikpapan (9,99 persen), Denpasar (9,85 persen), Makassar (7,57 persen), Banjarmasin (7,57 persen), Lombok (5,7 persen).

    Selanjutnya Jakarta-Halim Perdana Kusama (5,66 persen), Bandung (4,43 persen), Batam (2,77 persen), Kupang (2,76 persen0, Semarang (2,39 persen), Yogyakarta (1,88 persen), Palangkaraya (1,87 persen), Manado (1,55 persen), dan Pontianak (1,31 persen).

    Adapun tujuan penumpang Internasional paling banyak menuju ke Kualumpur yaitu 34,95 persen. Kamudian Singapura (33,82 persen), Hongkong (8,33 persen), Jeddah/Madinah (6,83 persen), Johor Bahru (5,64 persen), Bangkok (3,15 persen), Bandar S. Begawan (3,10 persen), dan Taipe (2,35 persen).

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.