Saham Dunia Anjlok Terseret Merosotnya Harga Minyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Richard Drew

    AP/Richard Drew

    TEMPO.CO, Jakarta - Bursa saham meluncur turun di seluruh dunia pada Kamis (Jumat dinihari WIB, 25 Maret 2016), menyusul kemerosotan baru dalam harga minyak. "Kepercayaan konsumen di Jerman mulai merasakan tekanan dari risiko-risiko ekonomi global dan gambaran ritel buruk di Inggris menambah sentimen suram," kata para pedagang.

    Pada Rabu lalu saham-saham maskapai penerbangan dan perjalanan wisata sebenarnya berbalik naik atau rebound setelah sebelumnya anjlog akibat serangan bom di Brussel. Namun menjelang libur Paskah saham di pasar-pasar Eropa kembali turun. Terutama saham-saham pertamabangan karena penurunan harga logam. "Pasar Eropa bereaksi terhadap penurunan terbaru harga minyak yang berlanjut hari ini," kata pialang Aurel BGC.

    Para investor juga membatalkan posisi mereka menjelang libur akhir pekan empat hari. Pada penutupan, indeks acuan FTSE 100 di London turun 1,5 persen, Indeks DAX 30 di Frankfurt 30 turun 1,7 persen, dan indeks CAC 40 di Paris turun 2,1 persen.

    Pada saat yang sama di Wall Street, Dow Jones diperdagangkan 0,5 persen lebih rendah, karena para pedagang mengutip harga minyak yang lemah, dolar yang kuat dan angka pesanan barang tahan lama terbaru AS sebagai faktor-faktor penurunan.

    Dalam valuta asing, euro turun terhadap dolar. "Dolar terus menguat dan ini tetap menjadi salah satu alasan utama komoditas-komoditas berada di bawah tekanan," kata Brenda Kelly, analis di pedagang London Capital Group.

    Di London, harga saham kelompok pertambangan Anglo American dan Rio Tinto turun tajam, dan perusahaan minyak juga turun.

    "Komoditas-komoditas yang dihargakan dalam mata uang greenback jatuh, menarik sektor-sektor minyak dan sumber daya dasar di pasar saham turun karena mereka," kata analis CMC Markets Jasper Lawler.

    Keadaan yang sama di Asia, setelah harga minyak mentah anjlok di tengah berita bahwa stok komersial AS melonjak 9,36 juta barel pada pekan lalu, lebih dari tiga kali jumlah yang diperkirakan oleh para analis.

    Petunjuk AS dapat menaikkan suku bunganya pada bulan depan sementara mendorong dolar lebih tinggi, menumpuk tekanan pada komoditas dan mengirim indeks acuan saham Sydney yang kaya sumber daya jatuh 1,1 persen.

    Sebuah penguatan greenback membuat itu lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya untuk membeli komoditas yang dihargakan dalam dolar, dan bahan baku dari bijih besi hingga emas terpukul.

    Di tempat lain di Asia, indeks saham utama Shanghai merosot 1,6 persen, Hong Kong turun 1,3 persen dan Tokyo turun 0,6 persen.

    Kembali di Eropa, perusahaan riset pasar GfK mengatakan bahwa optimisme di kalangan konsumen Jerman memudar bulan ini. "Ini tidak mungkin bahwa lemahnya permintaan untuk barang-barang Jerman di sejumlah negara-negara penting tidak akan memiliki efek pada pertumbuhan ekonomi Jerman," tambahnya dalam sebuah pernyataan.

    Di Inggris, peritel fashion Next memperingatkan bahwa 2016 ditetapkan menjadi tahun terberat sejak krisis keuangan global, membuat harga sahamnya merosot 11,5 persen mendekati tengah hari.

    Sementara itu data resmi menunjukkan bahwa penjualan ritel Inggris turun lebih baik dari perkiraan 0,4 persen pada bulan lalu dibanding Januari, demikian AFP melaporkan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.