Riau Minta Perbankan Biayai Perkebunan Sagu Rakyat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang bocah mengupas tual untuk dijadikan sebagai sagu di sebuah kilang sagu di desa Sungai Tohor, Meranti, Riau, 30 Desember 2014. Pada 1970 warga mulai membudidaya sagu dengan metode perkebunan sehingga mampu menembus pasar Internasional terutama Malaysia. TEMPO/Riyan Nofitra

    Seorang bocah mengupas tual untuk dijadikan sebagai sagu di sebuah kilang sagu di desa Sungai Tohor, Meranti, Riau, 30 Desember 2014. Pada 1970 warga mulai membudidaya sagu dengan metode perkebunan sehingga mampu menembus pasar Internasional terutama Malaysia. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau meminta perbankan untuk membiayai perkebunan sagu yang menjadi komoditas andalan daerah tersebut.

    Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti Iqaruddin mengatakan sebagian besar lahan di daerah itu ditanami sagu sehingga perkebunan sagu menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat.

    “Masyarakat sangat bergantung dengan kebun sagunya, tetapi banyak praktik di lapangan petani atau masyarakat ini bergantung dengan para toke atau tengkulak untuk memenuhi kebutuhan dananya saat keperluan mendesak,” katanya, Rabu, 23 Maret 2016.

    Dia mencontohkan petani sagu saat membutuhkan biaya sekolah anak atau pesta perkawinan anak, banyak yang memilih untuk menjual kebunnya dengan sistem ijon. Padahal sistem ini sangat merugikan petani dalam jangka panjang, di mana harga yang ditetapkan tengkulak tersebut sangat rendah, kira-kira Rp50.000 per batang sagu yang masih masa tanam dan belum panen.

    Akibatnya setelah meminjam uang ke tengkulak itu, petani menjadi terikat dan tidak bisa lagi mengembangkan kebun sagu itu secara mandiri. “Untuk itulah kami meminta peran perbankan untuk dapat masuk dan membiayai sektor perkebunan sagu rakyat ini, mungkin nanti bentuk kerja samanya dalam kerangka kelompok tani dan ada dana untuk budidaya tanaman sagu rakyat,” katanya.

    Selain itu ketergantungan dengan tengkulak membuat harga jual sagu basah hasil olahan petani kian terpuruk. Bila pada harga normal berada di level Rp2.500 per kilogram, kini harganya terus melemah menjadi Rp1.700 – Rp1.800 per kilogram.

    Sementara itu Kepala Bank Indonesia Perwakilan Riau Ismet Inono mengatakan perbankan bisa menjadikan perkebunan sagu sebagai salah satu sektor pertanian yang dapat dibiayai oleh bank.

    “Sagu menjadi salah satu komoditas pangan andalan dan juga masuk dalam program diversifikasi pangan pemerintah pusat, untuk itu perbankan bisa masuk dan ikut membiayai pengembangan sagu di Meranti,” katanya.

    Dari data pemda setempat, produksi sagu Meranti saat ini rerata mencapai 210.000 ton dari total produksi nasional sebanyak 400.000 ton. Dari komposisi ini, Meranti memenuhi lebih dari 50% kebutuhan sagu nasional dan mampu menggerakkan ekonomi setempat.

    Adapun data pemkab menunjukkan total luas lahan kabupaten itu mencapai 360.000 hektare, 13,6% adalah lahan sagu. Sektor tenaga kerja yang ikut dalam budidaya tanaman sagu mencapai 16,31% dari total angkatan kerja laki-laki yaitu sebanyak 183.000 jiwa.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.