Sulawesi Jadi Sentra Baru Bawang Merah dan Cabai  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bawang Merah. TEMPO/Hariandi Hafid

    Ilustrasi Bawang Merah. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.COJakarta - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian mengeluarkan rekomendasi pengembangan sentra produksi baru bawang merah dan cabai.

    Kepala Balitbangtan M. Syakir di Jakarta, Selasa, 22 Maret 2016 menyatakan saat ini sentra produksi bawang merah berada di Kabupaten Brebes (Jawa Tengah), Cirebon (Jawa Barat), Nganjuk (Jawa Timur), dan Nusa Tenggara Barat.

    "Kami merekomendasikan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang memiliki potensi untuk sentra produksi baru," ucapnya.

    Untuk komoditas cabai, kata Syakir, daerah-daerah baru yang direkomendasikan sebagai sentra produksi adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bali dan Sulawesi Selatan.

    Menurut dia, pada periode Januari hingga April, biasanya di Pulau Jawa terjadi defisit pasokan kedua komoditas hortikultura tersebut. Sehingga seluruh produksi di Jawa hanya untuk mencukupi kebutuhan di wilayah itu.

    Dengan pengembangan sentra-sentra produksi baru tersebut, menurut Syakir, tidak semua pasokan lari ke Jawa jika terjadi penurunan produksi.

    Penguasaan bawang merah di Indonesia hanya dilakukan di daerah tertentu dan terkonsentrasi di Jawa, yakni sekitar 80 persen, yang mana hampir 42 persen di antaranya terkonsentrasi di Jawa Tengah (Brebes), diikuti Jawa Timur (24 persen di Nganjuk dan Probolinggo), serta Jawa Barat 11 persen (Cirebon).

    Sedangkan di luar Pulau Jawa, penguasaan produksi bawang merah di Nusa Tenggara Barat sebanyak 9 persen, Sumatera Barat (5 persen), dan Sulawesi Selatan (4 persen).

    Syakir menegaskan, saat ini pasokan bawang merah dan cabai di Indonesia secara umum sudah mencukupi. Selama 2014 kebutuhan bawang merah sebanyak 0,63 juta ton, sedangkan pasokan nasional 1,23 juta ton.

    Demikian juga dengan cabai besar dan cabai rawit. Kebutuhannya masing-masing sebanyak 0,37 juta ton dan 0,32 juta ton, sedangkan produksi nasional mencapai 1,7 juta ton dan 0,8 juta ton.

    "Fluktuasi dan disparitas harga terjadi karena distribusi produksi yang tidak merata, baik lokasi maupun waktu," ujar Syakir.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.