Pemerintah Bangun 32 Ribu Jargas & 1 SPBG di Prabumulih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 26 Februari 2016. Gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik pupuk, pembangkit listrik, industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. ANTARA/Zabur Karuru

    Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 26 Februari 2016. Gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik pupuk, pembangkit listrik, industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menandai awal pembangunan jaringan gas rumah tangga yang mencakup 32.000 sambungan rumah di Kota Prabumulih, Senin (21 Maret 2016).

    "Proyek akan dikerjakan dengan kualitas tinggi oleh sumber daya manusia yang berkualitas," kata Sudirman tentang jaringan gas yang dibangun bekerja sama dengan Pertamina dan badan usaha milik negara lainnya.

    Pembangunan jaringan gas yang mencakup 32.000 sambungan rumah tangga tersebut, menurut dia, merupakan kontrak proyek terbesar dengan total nilai Rp493,5 miliar.

    Saat ini sudah terpasang 4.650 sambungan gas rumah tangga di Prabumulih.

    "Dengan pembangunan jaringan gas di tahun 2016 ini, lebih dari 93 persen penduduk Kota Prabumulih akan tersambung dengan jaringan gas bumi. Ini akan menjadi kota percontohan di Indonesia yang menggunakan sumber daya setempat," kata Sudirman.

    Tahun ini Kota Prabumulih juga akan membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Online dengan kapasitas 1 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Proyek senilai Rp50,3 miliar itu dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016.

    Pemerintah membangun infrastruktur jaringan gas dan SPBG untuk meningkatkan pelayanan umum dalam penyediaan energi yang murah, bersih, aman dan mudah serta mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak, khususnya subsidi minyak tanah dan LPG yang merupakan komponen subsidi terbesar.

    Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral IGN Wiratmaja Puja mengatakan tahun ini pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga akan dilakukan di enam wilayah di Indonesia.

    Pemerintah, menurut dia, akan membangun sekitar 89.000 sambungan gas untuk rumah tangga dengan total biaya kurang lebih Rp1,18 triliun.

    "Nantinya akan dibangun di Tarakan, Surabaya, Batam, Cilegon, Balikpapan dan Prabumulih. Untuk Prabumulih sendiri tahun ini akan dibangun sebanyak 32.250 sambungan," ujar Wiratmaja.

    Di Surabaya, ia melanjutkan, pemerintah akan membangun jaringan gas rumah tangga yang meliputi kurang lebih 24.000 sambungan serta membangun 21.000 sambungan gas rumah tangga di Kota Tarakan (Kalimantan Utara) dan 4.066 sambungan di Cilegon, Provinsi Banten.

    "Untuk Batam sebanyak 4.000 sambungan dan Balikpapan sebanyak 3.849 sambungan. Penandatanganan kontrak pada 29 Februari 2016 lalu," kata Wiratmaja.

    Di Prabumulih, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral juga meresmikan pembangunan infrastruktur proyek Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) serta Ketenagalistrikan di wilayah Sumatera bagian selatan.

    Pada subsektor tersebut, pemerintah telah membangun 23 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya berkapasitas 915 kilowatt peak (KWP) yang dapat mengalirkan listrik ke 3.814 rumah.

    Pemerintah juga membangun satu unit instalasi biogas komunal dan 70 unit instalaso biogas skala rumah tangga, serta 120 tungku hemat energi.

    Pembangunan infrastruktur subsektor EBTKE tersebut secara keseluruhan menghabiskan dana Rp99,34 miliar.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.