Pengusaha Daging Australia Keluhkan Ongkos Sertifikasi Halal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Impor sapi potong dari Australia akan dilakukan pada Agustus hingga Desember 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Impor sapi potong dari Australia akan dilakukan pada Agustus hingga Desember 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong melakukan kunjungan kerja ke Australia pada 15-18 Maret 2016. Di sana, ia sempat bertemu dengan perwakilan industri daging merah dan membahas hubungan dagang kedua negara.

    Di antara perwakilan pengusaha yang ditemui Lembong adalah Managing Director of Meat Livestock Australia, CEO Australian Livestock Exporters’ Council, Chairman Red Meat Advisory Council, dan CEO Livecorp. Dalam pertemuan di Sydney ini, pebisnis Australia menyampaikan perhatiannya terkait dengan sistem notifikasi alokasi impor daging Indonesia dan juga biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh sertifikat halal.

    "Saya sampaikan bahwa saat ini Indonesia dalam proses deregulasi di beberapa sektor dan diharapkan sektor pertanian dapat menjadi lebih modern sehingga dapat meminimalisasi isu-isu politik," kata Lembong dalam keterangan tertulis, Senin, 21 Maret 2016.

    Selain itu, Thomas Lembong juga bertemu CEO Macquarie Group Asia Alex Harvey. Dalam pertemuan Selasa pekan lalu itu, Tom Lembong mengundang Macquarie untuk bekerja sama dengan sektor perbankan Indonesia dalam pengelolaan aset.

    Sebagai negara dengan jumlah populasi dan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi, menurut Lembong, aset-aset Indonesia dapat dikelola secara ekonomis. Aset tersebut akan diinvestasikan di beberapa sektor, seperti pendidikan, pembangunan jalan tol, peternakan, dan manajemen air.

    Menanggapi undangan ini, menurut Lembong, Macquarie akan melakukan penjajakan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bank Mandiri guna memetakan capital flow di Indonesia dan kemudian diinvestasikan untuk pengembangan infrastruktur Indonesia. "Sebagai tindak lanjut, rencana kerja sama tersebut akan dibahas beberapa minggu kemudian di Jakarta," ujarnya.

    Pada kunjungan ke Freelancer.com, Lembong juga menyampaikan bahwa Indonesia akan fokus pada bidang digital economy, seperti e-commerce dan e-licensing. Rencana kebijakan ini disambut baik Freelancer.com hingga mereka menyatakan niat membuka cabang di Jakarta.

    Nantinya, melalui Freelancer.com, masyarakat Indonesia dapat mengakses beberapa peluang pekerjaan, khususnya bagi engineering dan data science system secara lebih luas. Saat ini pun, Indonesia telah memiliki kontribusi yang besar pada perusahaan ini dan merupakan top 5 workers di Freelancer.com.

    Mengakhiri kunjungannya ke Sydney, Lembong juga berkunjung ke pusat pelatihan perawat di University of Sydney. Lembong memiliki misi untuk menjalin kerja sama di bidang pelatihan vokasi untuk perawat Indonesia atau riset bersama.

    Misi itu, menurut Lembong, dilatarbelakangi budaya Indonesia yang ramah sehingga dapat mendukung Indonesia di sektor hospitality. Apalagi jika melihat tren populasi yang menua di negara maju, Indonesia berencana meningkatkan keahlian perawatnya untuk bekerja di luar negeri. University of Sydney sedang menyusun kurikulum kompetensi agar alumnus dapat bekerja sebagai perawat terdaftar.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cesium 137 dan Bahaya Radiasi Pada Tubuh Manusia

    Cesium 137 adalah bahan radioaktif yang digunakan berbagai industri dan pengobatan. Bila salah dikelola, bahan itu akan menimbulkan sejumlah penyakit.