Jokowi Ancam Reshuffle, Target Dwelling Time Jadi 2,5 Hari  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja beristirahat dengan latar aktivitas bongkar muat peti kemas di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 Desember 2015. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Pekerja beristirahat dengan latar aktivitas bongkar muat peti kemas di Dermaga 107 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 Desember 2015. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Satuan Tugas Dwelling Time, Agung Kuswandono, menargetkan bisa menekan waktu bongkar muat di Pelindo II selama 2,5 hari. Menurut dia, Presiden Joko Widodo menginginkan agar dwelling time dapat ditekan maksimal tiga hari. "Sore ini kami diperintahkan Menteri Menko Kemaritiman Rizal Ramli untuk mengadakan rapat terbatas," tutur Agung di kantor Pelindo II, Jumat, 18 Maret 2016.

    Menurut Agung, Menteri Rizal mematok target waktu dwelling time di Indonesia bisa sama dengan pelabuhan di Singapura. Saat ini, waktu bongkar muat di pelabuhan Singapura hanya dua hari. "Singapura negara transit, Indonesia negara tujuan ekspor-impor," kata Agung. Dia mengklaim waktu dwelling time saat ini sudah bisa ditekan menjadi 3,6 hari dari sebelumnya yang mencapai satu minggu.

    BACA: Reshuffle Kabinet, Mereka Mencoba Dikte Jokowi?

    Agung mengatakan sudah memberlakukan sejumlah kebijakan untuk menekan waktu bongkar muat barang. Pada 1 Maret lalu dia mulai memberlakukan tarif progresif hingga 900 persen bagi kontainer yang masuk pelabuhan tersebut. Pelindo II juga telah memasukkan kereta barang. Rencananya, pada pekan depan pihaknya akan berkoordinasi dengan tiga pelabuhan lain di kawasan Banten untuk menopang Pelindo II.

    Koordinasi tersebut bertujuan agar beban kapal ekspor impor yang selama ini menumpuk di Pelindo II bisa terurai. Respons ini merupakan tanggapan atas perintah
    Presiden Jokowi sebelumnya mengingatkan menteri dalam kabinetnya untuk segera menyelesaikan masalah masa waktu tunggu dwelling time. Dia mengaku kecewa karena dwelling time di Indonesia mencapai 6-7 hari. "Setelah saya cek lagi di bawah 5 hari."

    BACA: Ribut Reshuffle, Golkar Mengaku Ditawari Menteri oleh Jokowi

    “Saya tunggu. Jika 6 bulan tidak bergerak sama sekali, ada menteri yang akan saya copot," kata Jokowi Kamis pekan lalu. Jokowi mengingatkan jika salah satu alasan perombakan kabinet jilid pertama adalah masalah dwelling time. Presiden minta menteri yang sekarang ada di kabinetnya segera menyelesaikan persoalan tersebut supaya tidak menjadi korban seperti reshuffle berikutnya.

    "Jangan sampai ada korban lagi terkait dengan dwelling time, jangan main-main lagi," ucapnya. Jokowi menginstruksikan menteri yang berhubungan dengan dwelling time mengikuti sistem seperti yang dilakukan Singapura dan Malaysia. Presiden berharap, bulan ini atau bulan depan waktu dwelling time hanya 3 hari.

    BACA: Reshuffle Kabinet Jokowi, Luhut: Tanyalah pada Rumput yang Bergoyang

    Dalam perombakan kabinet pada Agustus tahun lalu, Jokowi mencopot sejumlah menteri, termasuk Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Susilo. Beberapa pekan sebelumnya, Jokowi marah besar ketika melakukan inspeksi mendadak mengenai dwelling time di Tanjung Priok. Saat itu ia menyatakan tidak takut mencopot menteri jika masalah dwelling time tak segera dibereskan.

    Selain Indroyono, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago, serta Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno dicopot. Presiden Jokowi juga menggeser posisi Sofyan Djalil dari Menteri Koordinator Perekonomian menjadi Kepala Bappenas.

    AVIT HIDAYAT

    BERITA MENARIK
    Usai Jalani 2 Latihan Bebas F1, Begini Kata Rio Haryanto
    Menkopolkam Luhut: Ahok Orang Tionghoa, Who Cares?
    Diperiksa BAP Soal Kopi, Jessica Kekeuh Tak Akui Bunuh Mirna


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?