Ekonomi Jabar Terindikasi Masuki Fase 'Rebound'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Ridwan Kamil memimpin panen aneka sayur hidrofonik di kebun perkotaan bersama warga Kelurahan Neglasari, Bandung, Jawa Barat, 31 Desember 2015. Warga diproyeksikan bisa memanen sayur setiap tiga bulan di lahan sayur perkotaan terbaik di wilayah Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    Walikota Ridwan Kamil memimpin panen aneka sayur hidrofonik di kebun perkotaan bersama warga Kelurahan Neglasari, Bandung, Jawa Barat, 31 Desember 2015. Warga diproyeksikan bisa memanen sayur setiap tiga bulan di lahan sayur perkotaan terbaik di wilayah Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diprediksi akan kembali bergeliat dan berada dalam fase rebound pada triwulan I/2016, setelah sempat menurun pada tahun lalu, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan pertumbuhan industri pengolahan.

    Berdasarkan data dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Provinsi Jawa Barat, laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jabar untuk keseluruhan tahun pada 2015 mencapai 5,03%, melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di level 5,09%.

    Di sisi lain, inflasi Jabar pada 2015 berada di level 2,73% dan menjadi inflasi tahunan terendah sejak 2009. Rendahnya inflasi tersebut dianggap sebagai indikasi melemahnya daya beli masyarakat dan tidak bergairahnya perekonomian Jabar pada tahun lalu.

    Kepala KPw-BI Jawa Barat Rosmaya Hadi memperkirakan kinerja perekonomian Jabar pada 2016 akan membaik dan tumbuh pada kisaran 5,1%-5,5% (year on year/yoy) diiringi dengan peningkatan inflasi ke rentang 3,2%-3,5%.

    Dia menuturkan konsumsi rumah tangga masih menjadi faktor utama pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi di Tanah Priangan pada triwulan terakhir tahun lalu, begitu pula untuk triwulan pertama tahun ini.

    “Konsumsi rumah tangga masih menjadi sumber utama pertumbuhan dengan share mencapai 63%. Di sisi sektoral, industri pengolahan dan perdagangan menjadi penyumbang terbesar dengan share masing-masing, 43% dan 16%,” ujarnya seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (17 Maret 2016).

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.