Dua Perusahaan Tertarik Biayai Pembangunan Kalijodo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah alat berat melakukan penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo, Jakarta, 29 Februari 2016.  Sebanyak 66 kepala keluarga masih bertahan di Kalijodo saat kampung itu diratakan. TEMPO/Subekti.

    Sejumlah alat berat melakukan penggusuran kawasan prostitusi Kalijodo, Jakarta, 29 Februari 2016. Sebanyak 66 kepala keluarga masih bertahan di Kalijodo saat kampung itu diratakan. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan, hingga saat ini, banyak perusahaan yang ingin membangun Taman Kalijodo di lokasi bekas kawasan prostitusi Kalijodo. Menurut Gubernur Provinsi DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, setidaknya telah ada dua perusahaan yang menunjukkan minatnya menyalurkan dana program corporate social responsibility (CSR) untuk membangun Taman Kalijodo. Keduanya adah Sinar Mas dan Coca Cola.

    "Sudah banyak yang mau. Sinar Mas tertarik untuk bangun. Coca Cola juga mau," kata mantan Bupati Belitung Timur yang akrab disapa Ahok tersebut, Kamis, 17 Maret 2016.

    Meski demikian, pihaknya menekankan kepada siapa saja yang tertarik menyalurkan dana CSR untuk membangun Taman Kalijodo agar memperhatikan desain kondisi sungai di sekitar Kalijodo. "Kita ingin kalinya bening, bisa untuk pelihara ikan, karena dia mau tempelin nama perusahaannya," ujarnya.

    Menurut dia, hal itu bukan masalah besar bagi perusahaan yang berminat, karena posisi Kalijodo sangat strategis, apalagi lokasinya bisa terlihat apabila ada yang melintas di jalan dari arah Bandar Udara Soekarno-Hatta. "Karena dari bandara kelihatan, pasti banyak yang mau," tuturnya.

    Setelah menertibkan kawasan prostitusi Kalijodo, Pemprov DKI hendak menjadikan lokasi tersebut sebagai ruang terbuka hijau dengan membangun sebuah taman bernama Taman Kalijodo.

    BISNIS.COM



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.