Indonesia-Australia Sepakat Lanjutkan Perundingan Kerja Sama  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Impor sapi potong dari Australia akan dilakukan pada Agustus hingga Desember 2015. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja tengah menurunkan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 September 2015. Impor sapi potong dari Australia akan dilakukan pada Agustus hingga Desember 2015. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dan Australia sepakat mengaktifkan kembali perundingan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Kesepakatan ini dicapai setelah Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong bertemu dengan Menteri Perdagangan dan Investasi Australia Steven Ciobo serta Special Envoy for Trade Australia Andrew Robb di Parliament House Canberra, Australia, Rabu, 16 Maret 2016.

    Lembong menyatakan reaktivasi perundingan tersebut berlandaskan kemitraan yang saling menguntungkan. "Indonesia dan Australia akan berupaya memastikan bahwa IA-CEPA berjalan komprehensif serta memberi hasil maksimal dalam hal perdagangan barang dan jasa, kerja sama investasi dan ekonomi, serta secara seimbang memberikan keuntungan kepada kedua pihak," ucap Lembong melalui siaran tertulisnya, Kamis, 17 Maret 2016.

    Lembong juga menuturkan kesepakatan ini harus dibangun dengan memperhatikan kesepakatan multilateral dan regional serta perundingan yang sebelumnya telah berjalan antara Indonesia dan Australia. Sebab, kerja sama perdagangan di bidang barang telah banyak tercakup di dalam ASEAN, Australia, dan Selandia Baru atau AANZFTA.

    Menteri Lembong dan Menteri Ciobo yakin perdagangan bilateral dan investasi antara Indonesia dan Australia dapat dikembangkan lebih lanjut. Secara ekonomi, Indonesia dan Australia dapat saling melengkapi, ditambah lagi dengan kedekatan geografis di antara kedua negara. Sebagai tahap awal, kedua negara sepakat saling memberi hasil yang telah diperoleh dengan adanya perjanjian perdagangan bebas.

    Lembong dan Ciobo mengaku puas dengan hasil identifikasi awal yang dilakukan tim perunding, meliputi daging dan ternak sapi, keterampilan, jasa keuangan, jasa profesional, makanan olahan, standar makanan dan obat, pertanian, desain, serta infrastruktur dan pendidikan. “Hasil identifikasi awal ini menegaskan kembali pentingnya IA-CEPA dan proyek-proyek lain yang memungkinkan terbentuk melalui perjanjian-perjanjian yang akan datang,” ujar Lembong.

    Lembong dan Ciobo juga telah menginstruksikan para pejabat terkait guna bekerja berdasarkan identifikasi awal tersebut untuk dibawa ke pertemuan lanjutan. Putaran ketiga perundingan akan dilaksanakan pada awal Mei 2016 di Indonesia. Targetnya, kedua negara dapat segera mencapai pemahaman final pada akhir tahun ini. Keberhasilan kerja sama Indonesia dengan Australia ini akan menjadi platform baru yang membawa Indonesia dan Australia pada hubungan perdagangan yang makin modern serta dinamis.

    Hal ini juga dapat mencerminkan eratnya hubungan antara Indonesia dan Australia. “Kedua negara bertekad menciptakan situasi yang kondusif dalam rangka pengembangan perdagangan dan investasi yang akan memaksimalkan potensi hubungan ekonomi Indonesia dan Australia,” kata Lembong.

    Pada kesempatan itu, Lembong dan Ciobo juga menyampaikan apresiasi terhadap tingkat keberhasilan sektor bisnis kedua negara sekaligus mengumumkan dimulainya reaktivasi Indonesia-Australia Business Partnership Group (IA-BPG) untuk memperbarui laporan dan berbagai rekomendasi. Jika berkaca dari laporan sebelumnya, kolaborasi komunitas bisnis Indonesia dan Australia dapat meningkatkan kemajuan berbagai negosiasi.

    PINGIT ARIA

    BERITA MENARIK
    Buntut Tuding TNI Dibeli Ahok, Ratna: Sudah Kenyang Di-Bully

    Ketika Susi, Menteri Lulusan SMP, Kuliahi Mahasiswa Harvard

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.