Kontrol Penerima Subsidi Perumahan Harus Dipertegas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja melayani calon pembeli rumah dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja melayani calon pembeli rumah dalam pameran Real Estate Indonesia di Jakarta, 5 Mei 2015. Penjualan properti tahun ini diprediksi menurun 50 persen dibanding tahun sebelumnya. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kalangan broker meminta pemerintah lebih tegas menjamin penyaluran subsidi perumahan tepat sasaran kepada masyarakat yang betul-betul membutuhakn rumah untuk ditempati.

    Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) Hartono Sarwono mengatakan, sistem pendataan identitas untuk seleksi penerima hak bantuan subsidi perumahan selama ini banyak dimanipulasi.

    “Banyak rumah murah itu yang setelah dibeli lalu disewakan lagi. Jadi, bukan end user yang yang beli, tapi investor. Ini boomerang bagi kita kalau misalnya nanti dapat bantuan soft loan perumahan Bank Dunia yang mensyaratkan harus end user,” katanya, Rabu (16 Maret 2016).

    Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR Maurin Sitorus mengakui sejauh ini belum ada sumber daya yang memadai untuk mengontrol hingga ke akar rumput untuk penyaluran subsidi perumahan.

    Sejauh ini, sanksi tegas sudah diberlakukan bila terbukti penerima bantuan sejatinya tidak berhak. Seluruh bantuan akan ditarik kembali. Dirinya menjanjikan akan memperkuat pengawasan tahun ini melalui pengecekan dengan sistem sampling.

    “Ini memang yang akan kita perketat karena sejauh ini memang tidak ada sistem yang menjamin itu,” katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.