Perkebunan Kelapa Sawit Terus Meningkat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani memetik daun tembakau di perkebunan di Pinar del Rio, Kuba, 26 Januari 2016. Fenomena El Nino yang menyerang negara ini mengakibatkan beberapa perkebunan tembakau rusak dan tak dapat panen. REUTERS/Alexandre Meneghini

    Seorang petani memetik daun tembakau di perkebunan di Pinar del Rio, Kuba, 26 Januari 2016. Fenomena El Nino yang menyerang negara ini mengakibatkan beberapa perkebunan tembakau rusak dan tak dapat panen. REUTERS/Alexandre Meneghini

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus meningkat, sehingga produksi yang dihasilkan perkebunan tersebut semakin membaik.

    "Pada tahun 2015, perkebunan kelapa sawit (CPO) di Indonesia sudah mencapai qq juta hektare dengan total prosuksi mencapai 32 juta ton. Dimana 45 persen dari laian ini milik petani, sisanya dikuasai oleh korporasi dan badan usaha milik negara (BUMN)," kata Darmin pada acara pembukaan "Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan" di Nusa Dua, Bali, Rabu (16 Maret 2016).

    Ia mengatakan perkebunan swasta dan BUMN memainkan peran penting bagi petani kecil. Perusahaan besar memiliki akses ke pasar dan kemampuan untuk bernegosiasi di pasar internasional.

    "Oleh karena itu perkebunan kelapa sawit swasta dan BUMN tidak bisa menutup mata terhadap petani kecil," kata Darmin.

    Menurut dia, perusahaan yang lebih kuat harus bisa mencari jalan keluar (solusi) jangka panjang untuk meningkatkan praktek berkelanjutan petani, bekerja sama dengan pemerintah untuk mempromosikan praktek perkebunan yang baik dan berkelanjutan.

    "Karena itu kami ingin memprioritaskan pada masalah pencegahan bencana untuk tahun ini. Banyak fokus dan bantuan yang ditawarkan pada isu-isu yang berdampak jangka menengah dan panjang. Namun dalam jangka pendek kita perlu memprioritaskan pencegahan berulangnya kebakaran hutan," ucapnya.

    Menko Perekonomian Darwin mengapresiasi terhadap tiga kelompok yang mewakili para pemangku kepentingan utama di sektor kelapa sawit, yakni sektor swasta diwakili PT SMART Tbk, peneliti diwakili CIRAD dan LSM lingkungan diwakili WWF.

    Sementara Ketua Komite Pengarah "Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan 2016" Daud Dharsono mengatakan perubahan iklim terus berlanjut, dan sekarang sedang terjadi.

    Ia mengatakan semua pemangku kepentingan, ilmuwan dan praktisi, LSM dan lembaga pemerintah, petani mandiri dan industri perkebunan harus bekerja sama untuk mengembangkan pilihan potensial dan praktis dalam mengambil langkah-langkah mitigasi serta adaptasi dengan perubahan iklim.

    "Dengan pengetahuan kolektif dan keahlian dari semua pemangku kepentingan, kami percaya bahwa kita dapat memperoleh solusi-solusi ilmiah dalam menghadapi perubahan iklim untuk diaplikasikan di seluruh industri kelapa sawit," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.