Pertamina Harus Manfaatkan Kerja Sama dengan Osaka Gas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 26 Februari 2016. Gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik pupuk, pembangkit listrik, industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. ANTARA/Zabur Karuru

    Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 26 Februari 2016. Gas tersebut untuk memenuhi kebutuhan gas pabrik pupuk, pembangkit listrik, industri dan jaringan gas kota untuk rumah tangga. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertamina harus memanfaatkan seoptimal mungkin kerja sama dengan Osaka Gas guna menambah pertimbangan pemerintah saat menunjuk badan penyangga (agregator) gas nasional.

    Selain akan menambah pengalaman di dunia internasional, kerja sama ini membuka peluang Pertamina menggali banyak nilai termasuk dasar pengelolaan gas internasional dan penerapan good corporate governance (GCG).

    "Kerja sama dengan perusahaan energi Jepang Osaka Gas setidaknya bisa menjadi bukti kredibilitas Pertamina dalam mengelola gas di Tanah Air," tutur pengamat energi dari ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, belum lama ini.

    Pasalnya, tidak semua perusahaan berkesempatan bekerja sama dengan Osaka Gas yang dikenal sulit dalam memilih mitra lantaran sangat selektif dan cenderung untuk mandiri. "Itu sebabnya, kerja sama ini menjadi tambahan catatan positif bagi Pertamina," kata Komaidi.

    Apalagi, lanjutnya, dalam beberapa tahun ke depan, gas akan menggantikan peran BBM sebagai primadona lantaran di satu sisi cadangan minyak di Indonesia makin terbatas dan di sisi lain terdapat cadangan gas yang cukup besar. "Berbagai variabel di atas bisa menjadi pertimbangan pemerintah sebelum menetapkan pihak pelaksana agregator."

    Penilaian senada dilontarkan pengamat energi UGM, Fahmi Radhy, yang mengingatkan kerja sama positif tersebut akan memberikan pembelajaran lebih banyak dan transfer teknologi.  "Itu sebabnya, Pertamina harus memanfaatkan kerja sama itu seoptimal mungkin, bahkan kalau perlu diberi pula fasilitas dan kemudahan."

    Kerja sama ini, lanjut Fahmi, bisa pula menjadi indikator keberhasilan Pertamina dalam pengelolaan gas dalam negeri. "Pertagas sudah mengambil peran cukup bagus."

    Sebelumnya, Nikkei Asian Review melansir kabar perusahaan energi terintegrasi asal Jepang, Osaka Gas, telah meneken kerja sama dengan PT Pertamina guna memperkuat bisnis liquefied natural gas (LNG) di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

    Osaka Gas akan memberikan pelatihan dalam rancangan, pembangunan, dan pengoperasian terminal LNG serta jaringan pipa kepada pihak Pertamina. Lewat kerja sama ini Osaka Gas berharap akan meningkatkan pelanggan gas baru terutama dari berbagai perusahaan asal Jepang yang beroperasi di Indonesia.

    Osaka Gas merupakan pemasok energi terkemuka di Jepang yang berdiri sejak 1897 dan mulai beroperasi pada 1905. Saat ini, Osaka Gas melayani tujuh juta pelanggan gas alam di Kansai, Osaka, Kobe, dan Kyoto.

    Perusahaan ini merupakan pemasok gas terbesar kedua di Jepang dengan pangsa pasar sebanyak 24 persen dari kebutuhan gas di Negeri Sakura.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?