Kemendag Ingin Neraca Perdagangan dengan Mesir, Surplus

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong memberikan keterangan pers usai mengadakan pertemuan antara Presiden Jokowi dan Global Head of Production H&M, Helena Helmersson (kiri) dan Duta Besar Swedia untuk Indonesia Johanna Brismar Skoog (tengah) untuk membahas mengenai perkembangan pelaku Industri Fashion Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, 24 Februari 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong memberikan keterangan pers usai mengadakan pertemuan antara Presiden Jokowi dan Global Head of Production H&M, Helena Helmersson (kiri) dan Duta Besar Swedia untuk Indonesia Johanna Brismar Skoog (tengah) untuk membahas mengenai perkembangan pelaku Industri Fashion Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, 24 Februari 2016. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan menargetkan peningkatan surplus perdagangan nonmigas dengan Mesir. Pada 2015 lalu, Indonesia tercatat menerima surplus sebesar 954,8 juta dolar Amerika Serikat.

    "Tahun ini, kami ingin terjadi peningkatan surplus secara signifikan," kata Direktur Jenderal PEN Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak, dalam siaran pers yang diterima, Selasa, (15 Maret 2016).

    Nus meyakinkan target peningkatan surplus itu dapat dicapai, dan oleh sebab itu Ditjen PEN terus melakukan promosi dan pameran ke Mesir salah satunya dengan keikutsertaan 20 perusahaan asal Indonesia pada ajang pameran The 49th Cairo International Fair (CIF) yang diselenggarakan pada 16-25 Maret 2016 di Cairo International Convention and Exhibition Center, Kairo, Mesir.

    "Mesir merupakan negara tujuan ekspor ke-26 bagi Indonesia dengan laju ekspor yang menggembirakan. Partisipasi pada pameran CIF 2016 ini diharapkan bisa terus meningkatkan surplus nilai perdagangan," ujar Nus.

    Ekspor nonmigas Indonesia ke Mesir pada 2015 tercatat sebesar 1,2 miliar dolar AS dengan produk ekspor terbesar palm oil and its fractions, artificial staple fiber yarn, coffee dan tyres.

    Menurut Nus, Paviliun Indonesia yang mengusung konsep "Trade with Remarkable Indonesia" terbukti berhasil mengangkat citra produk Indonesia. Area yang digunakan tahun ini lebih luas dari tahun lalu, yaitu seluas 284 meter persegi.

    Dalam ajang tersebut, selain 20 perusahaan Indonesia, Paviliun Indonesia juga akan diisi 10 distributor lokal produk Indonesia di Mesir.

    Nus juga menyasar adanya diversifikasi produk dan berbagai produk yang akan dipamerkan adalah food and beverages, household appliances, consumer goods, furniture, handicraft, fashion and jewelry, electronic, carpet, dan cleaning equipment.

    "Di samping pameran, akan diadakan pula kegiatan business matching antara perusahaan Indonesia dengan importir Mesir," ujar Nus.

    Selain Indonesia, pameran multi produk tersebut akan diikuti sekitar 10 negara sahabat Mesir, antara lain Kuwait, Sri Lanka, Lebanon, Jerman, Aljazair, Irak, dan Sudan. Pameran akan diikuti sekitar 350 ekshibitor, diharapkan CIF 2016 akan menyedot banyak pengunjung lokal dan internasional.

    Strategi lainnya yang jauh lebih penting adalah memperkuat sinergi perwakilan Indonesia di Mesir.

    "Paviliun Indonesia di CIF 2016 merupakan hasil sinergi Ditjen PEN dengan KBRI serta Atase Perdagangan Kairo. Meski Mesir masih berjuang membenahi perekonomiannya akibat krisis politik di dalam negerinya, kami optimistis ekspor Indonesia ke Mesir meningkat melalui pameran ini," tutup Nus.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.