Harga Cabai di Pasar Nganjuk Naik 100 Persen Lebih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang cabai. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang cabai. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Nganjuk - Kenaikan harga sayur-mayur dirasakan warga di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir ini. Tak tanggung-tanggung, kenaikan harga bisa mencapai lebih dari 100 persen.

    Salah satu hasil pertanian yang dikeluhkan harganya adalah cabe rawit. Jika satu pekan lalu harga cabai rawit masih di kisaran Rp 30 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 45 ribu. “Ini bukan naik lagi, tapi ganti harga.” Suwani, ibu rumah tangga, mengomel saat berbelanja di Pasar Wage Nganjuk, Selasa 15 Maret 2016.

    Kenaikan yang lebih tajam terjadi pada komoditas cabai merah. Pedagang cabai di pasar itu mematok harga Rp 45 ribu dari Rp 20 ribu per kilogram sebelumnya atau naik fantastis hingga di atas 100 persen.

    Celakanya, Suwani tak bisa meninggalkan dua hasil pertanian pencipta rasa pedas itu. Hampir setiap masakannya memerlukan dua bumbu itu dalam komposisi besar. Ini lantaran suami dan anak-anaknya menyukai masakan pedas. “Kalau untuk makanan kering saya gunakan cabai serbuk kemasan,” kata Suwani menjelaskan kiat iritnya.

    Tak hanya cabai rawit dan cabai merah yang naik harganya. Harga cabai hijau pun naik meski tak terlalu tajam. Komoditas ini dijual Rp 20 ribu per kilogram dari harga sebelumnya sebesar Rp 15 ribu. Demikian pula tomat dan kubis yang harganya bergerak dari Rp 7 ribu dan Rp 3 ribu menjadi Rp 13 ribu dan Rp 4 ribu per kilogram.

    Namun, di tengah naiknya komoditas itu, sejumlah sayuran turun harga. Ini terjadi pada wortel yang turun dari Rp 7 ribu menjadi Rp 5 ribu per kilogram dan terong dari Rp 4 ribu menjadi Rp 3 ribu per kilogram.

    Retno, salah satu pemilik lapak sembako di Pasar Wage mengatakan kenaikan ini bukan cara pedagang mencari untung. Menurut dia, pasokan dari petani yang minim memicu kenaikan harga sayuran. “Dari petani sudah sedikit, jadi otomatis naik.”

    Hukum pasar inilah yang menurut Retno menjadi penentu kenaikan dan penurunan harga sayuran. Hal ini terlihat dari turunnya harga wortel dan terong karena membludaknya pasokan. Dia memperkirakan kenaikan ini akan terus terjadi setiap hari selama penghujan. Sebab menurut informasi yang dia terima, hasil produksi petani cukup terganggu selama musim hujan ini.

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.