Produksi Batu Bara dan Baja Cina Merosot

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga mengumpulkan batu bara di tembang batu bara Sun Meng di provinsi Heilongjiang, Cina, 23 Oktober 2015. Sebanyak 248.000 orang diberhentikan akibat lambatnya perekonomian di Cina yang berdampak besar pada perkerja batu bara. REUTERS/Jason Lee

    Seorang warga mengumpulkan batu bara di tembang batu bara Sun Meng di provinsi Heilongjiang, Cina, 23 Oktober 2015. Sebanyak 248.000 orang diberhentikan akibat lambatnya perekonomian di Cina yang berdampak besar pada perkerja batu bara. REUTERS/Jason Lee

    TEMPO.CO, Jakarta - Produksi komoditas andalan Cina seperti batu bara dan baja terus menyusut sepanjang dua bulan pertama 2016 di tengah berlebihnya pasokan global serta merosotnya harga.

    Pada penutupan perdagangan Jumat (11 Maret 2016) harga batu bara di bursa Rotterdam untuk kontrak Maret 2016 terkoreksi 0,15 poin menjadi US$46,4 per ton.

    Data aktivitas perekonomian Cina yang masih melambat juga memukul belanja modal industri pertambangan.  Oleh karena itu, pelaku usaha berharap pemerintah mampu berbuat banyak perihal regulasi untuk mengatasi berbagai tekanan dari internal dan eksternal.

    Dalam gelaran National People's Congress yang berlangsung pekan lalu, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi Negeri Panda  dari 6,5% menjadi 7% pada 2016.

    ANZ Research dalam laporannya menyatakan, National People's Congress menjadi berita positif bagi pasar komoditas dengan merangsang permintaan domestik dan menguraikan reformasi kebijakan. Namun, dukungan kebijakan baru tidak akan terlalu berpengaruh bagi sektor bijih besi dan baja.

    Data dari National Bureau of Statistics of Cina (Biro Statistik Nasional Cina) menunjukkan produksi baja mentah periode Januari-Februari 2016 jatuh 5,7% secara year-on-year/ yoy menjadi 121,1 juta ton. Sentimen tersebut juga didorong oleh anjloknya penambangan batu bara matang sebagai bahan utama pembuatan baja.

    Cina menyumbang hampir setengah pasokan baja dunia, tetapi pabrik dalam negeri sedang mengalami tekanan berat dan berencana memangkas produksi akibat melemahnya permintaan. Tahun lalu, tingkat produksi turun pertama kalinya sejak 1981.

    Chairman Hunan Valin Iron and Steel Group Cao Huiquan berpendapat permintaan baja sebenarnya masih stabil. Namun, belum ada pertanda penyerapan bakal naik secara signifikan.

    World Steel Association (Asosiasi Baja Dunia) mencatat produksi baja mentah dari 66 negara pada Januari 2016 turun 7,1% secara yoy menjadi 128 juta ton. Negeri Tembok Raksasa memimpin pelemahan produksi sebesar 7,8% secara tahunan menuju level 63,2 juta ton.

    Biro Statistik Nasional Cina juga menyebutkan, dalam dua bulan pertama 2016 produksi batu bara mentah juga turun 6,4% secara yoy menjadi 513 juta ton. Selain permintaan yang lesu, kampanye pemerintah soal penggunaan energi bersih menjegal penyerapan pasar.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.