Rupiah Menguat ke Kisaran 12.000 per Dolar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta Jumat sore menguat 72 poin menjadi 12.980 per dolar AS, setelah pada hari sebelumnya ditutup pada 13.052 per dolar AS dan lama bertengger di atas level 13.000.

    Pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan bahwa kebijakan negara-negara maju yang menerapkan suku bunga nol persen bahkan minus membuat imbal hasil menjadi kurang menarik sehingga investor pasar uang cenderung mengalihkan dananya ke negara-negara berkembang.

    "Imbal hasil di Indonesia yang masih menerapkan suku bunga positif membuat aset-aset dalam bentuk rupiah diminati investor," katanya.

    Di sisi lain, lanjut dia, sentimen kenaikan suku bunga Amerika Serikat (Fed rate) yang meredup setelah data menunjukkan ekonomi belum sepenuhnya pulih membuat aset dalam bentuk dolar AS menjadi kurang menarik.

    Kendati demikian, menurut Rully Nova, penguatan mata uang rupiah terhadap dolar AS yang cukup signifikan dapat berdampak negatif terhadap kinerja ekspor Indonesia.

    "Diharapkan, penguatan rupiah fluktuasinya tidak terlalu lebar agar mudah diprediksi pelaku pasar dan pelaku usaha di dalam negeri," katanya.

    Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong menambahkan bahwa tren inflasi Indonesia yang rendah pada 2016 ini masih menjadi salah satu yang menopang mat uang rupiah.

    "Inflasi yang rendah akan memicu suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) berpotensi kembali dipangkas yang akhirnya dapat menekan suku bunga kredit perbankan sehingga konsumsi domestik dapat meningkat yang akhirnya menopang ekonomi," katanya.

    Menurut Kurs Tengah Bank Indonesia, rupiah hari ini berada pada 13.087 per dolar AS dari 13.149 pada hari sebelumnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.