Wapres JK: Rupiah Menguat karena Ekonomi Amerika Melemah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menukarkan mata uang asing pada sebuah tempat penukaran mata uang asing di Mall Ambasador, Jakarta, 12 Maret 2015. Tingginya nilai tukar Dollar atas Rupiah membuat orang-orang menukarkan Dollar miliknya ke bank atau tempat penukaran mata uang. Tempo/Tony Hartawan

    Warga menukarkan mata uang asing pada sebuah tempat penukaran mata uang asing di Mall Ambasador, Jakarta, 12 Maret 2015. Tingginya nilai tukar Dollar atas Rupiah membuat orang-orang menukarkan Dollar miliknya ke bank atau tempat penukaran mata uang. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Nilai tukar rupiah mengalami penguatan dalam beberapa hari belakangan. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan penguatan itu disebabkan kondisi ekonomi Amerika. "Karena ekonomi Amerika melemah lagi, kan kita menguat," ujar Kalla, Jumat, 11 Maret 2016, di kantor Wapres, Jakarta.

    Kalla mengatakan sebenarnya rupiah cukup stabil terhadap mata uang lain selain dolar Amerika, misalnya dengan yen dan ringgit. Sedangkan penguatan rupiah terhadap dolar Amerika disebabkan pelemahan ekonomi Amerika.

    Namun Kalla menyatakan ada yang lebih penting dibanding penguatan rupiah terhadap dolar, yaitu menjaga kestabilan rupiah pada level tertentu.

    Kestabilan ini penting agar ekspor dan impor tetap terjaga. "Kalau terlalu kuat, bisa impornya murah, nanti ekspornya turun. Jadi kita menjaga pada level yang stabil," tuturnya.

    Dia menyebut nilai yang baik bagi rupiah ialah stabil di angka sekitar Rp 13 ribu per dolar Amerika. Di level tersebut, ekspor disebut bisa berkembang, sementara impor bisa terjaga karena nilai dolar tidak terlalu murah.

    Nilai rupiah pada Jumat ini mencapai Rp 13.087 per dolar. Penguatan ini terjadi dalam beberapa hari belakangan. Bahkan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 12.984 per dolar Amerika beberapa hari lalu.

    AMIRULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.