2020, Agus Marto: Pangsa Pasar Bank Syariah Capai 8 Persen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo saat berdiskusi di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, 11 November 2015. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

    TEMPO.COJakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memprediksi pangsa pasar perbankan syariah naik hingga menjadi 6-8 persen dari total pasar perbankan pada 2020. "Jika masalah struktural tidak bisa diselesaikan, kami memprediksi pangsa pasar perbankan syariah mencapai 6-8 persen pada 2020," kata Agus, seperti tertulis dalam laporan keuangan syariah yang dirilis Islamic Research and Training Institute pada Jumat, 11 Maret 2016.

    Agus menjelaskan, selama ini ada tiga masalah struktural. Pertama, biaya finansial bank syariah yang masih lebih tinggi ketimbang bank konvensional. Kedua, orientasi retail dan komersial yang belum jelas. Ketiga adalah minimnya pengembangan produk yang lebih inovatif.

    Ketua Dewan Kehormatan Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad mengatakan selama ini pangsa pasar perbankan syariah berada di bawah 5 persen. Per akhir tahun lalu, angkanya mencapai 4,8 persen. 

    Angka tersebut, menurut Muliaman, masih lebih besar dibandingkan sektor industri syariah lainnya. "Pangsa pasar sukuk mencapai 3,2 persen, sedangkan institusi keuangan syariah nonbank mencapai 3,1 persen," ujarnya.

    Meski masih mendominasi, baik Agus maupun Muliaman mengatakan tantangan pengembangan bank syariah masih banyak. "Perlu ada peningkatan kapasitas," tutur Muliaman. 

    Muliaman berharap bank syariah bisa mengambil andil dalam pembiayaan berbagai proyek perekonomian, baik yang besar maupun mikro. Selain kapasitas, bank syariah pun perlu meningkatkan sumber daya manusia hingga teknologinya.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.