Sempat Turun, IHSG Masih Berpeluang Melanjutkan Tren Positif  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada mengatakan masih ada peluang bagi laju indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk tetap berada di tren positifnya. Pada perdagangan Selasa, 8 Maret 2016, IHSG support berada di 4.796-4.813 dan resistan di 4.870-4.891.

    "Dengan penguatan rupiah dan masih adanya net buy asing yang lebih besar dibandingkan hari sebelumnya, kami berasumsi masih ada peluang bagi laju IHSG untuk tetap berada pada tren positifnya dalam minggu ini," kata Reza melalui siaran persnya pada Selasa, 8 Maret 2016.

    Menurut Reza, koreksi yang terjadi dalam satu-dua hari perdagangan terbilang wajar. Pasalnya, selama delapan hari sebelumnya terjadi penguatan. IHSG pun masih memiliki utang gap di level 4.781-4.808.

    "Laju IHSG akan cenderung terkonsolidasi dengan pelemahan yang diharapkan dapat terbatas. Tetap cermati sentimen yang ada," katanya.

    Kemarin, IHSG bergerak fluktuatif dan ditutup turun 0,4 persen atau 19,31 poin ke level 4.831,58. Penurunan tersebut mengakhiri reli kenaikan IHSG selama delapan hari.

    Sepanjang pergerakan IHSG, meski lajunya cenderung melemah tapi aksi beli masih kembali terjadi. Laju rupiah pun menguat dibuatnya. Asing kembali tercatat melakukan aksi beli, dari net buy Rp 307 miliar menjadi net buy Rp 502 miliar.

    Reza mengatakan cadangan devisa Indonesia per Februari naik US$ 2,4 miliar menjadi US$ 104.5 miliar dari US$ 102.1 miliar. Keadaan tersebut makin memperkuat fundamental IHSG dalam jangka panjang. Namun, rilis tersebut belum banyak berimbas positif pada IHSG seiring masih lebih besarnya pengaruh aksi profit taking.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.