Pemasok Daging Sapi Bandung Tak Andalkan Pasokan dari NTT

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemotongan Sapi Kena Pajak, Pedagang Daging Libur Berjualan.

    Pemotongan Sapi Kena Pajak, Pedagang Daging Libur Berjualan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Pedagang Daging Sapi Indonesia (Apdasi) Kota Bandung meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan pasokan sapi dari NTT untuk menstabilkan harga daging sapi di pasaran.

    Ketua Apdasi Kota Bandung Endang Mubarok mengatakan pasokan sapi dari NTT saat ini tidak membuat harga daging sapi di pasaran turun di bawah Rp100.000/kg.

    Pasalnya, kebutuhan sapi di Kota Bandung saja tidak sebanding dengan pasokan dari NTT itu.

    "Kebutuhan pasokan sapi di Kota Bandung setiap hari mencapai 300 ekor atau 9.000 ekor per bulan. Jadi tidak akan berdampak signifikan terhadap daging sapi," ujarnya, Senin (7 Maret 2016).

    Dia menyebutkan saat ini harga daging sapi di pasaran justru mengalami kenaikan Rp.2.000/kg. Dari sebelumnya Rp110.000/kg menjadi Rp112.000/kg. "Itu tergantung kualitas, tapi yang paling murah sebesar Rp100.000/kg," katanya.

    Oleh karena itu, kata dia, untuk menstabilisasi harga daging sapi di pasaran maka pemerintah hanya perlu mendatangkan sapi berbentuk bakalan dari luar negeri. Dengan demikian, pasokan sapi untuk dijagal bakal tersedia dalam waktu yang panjang.

    "Sekarang kebijakan ada mendatangkan sapi bakalan ada juga berbentuk daging beku. Ini membuat pedagang menjadi dilematis," ujarnya.

    Sebelum masuk rumah pemotongan hewan (RPH), lanjut dia, apabila pemerintah hanya melakukan impor sapi bakalan maka terlebih dulu akan dipelihara oleh peternak. Dengan demikian, di samping untuk memenuhi kebutuhan daging sapi di pasaran juga bisa menyerap tenaga kerja lebih besar.

    "Sekarang kalau impor sapi bakalan pasti dipelihara dulu yang tentunya akan memiliki nilai tambah bagi masyarakat," ujarnya.

    Setelah melakukan impor sapi bakalan, maka pemerintah harus melakukan pengawasan di lapangan dengan melibatkan asosiasi.

    "Pemerintah harus transparan berapa beli sapi, harga di kandang berapa, dan harga di RPH berapa. Jadi nanti tidak akan ada yang memainkan harga," ujarnya.

    Dia optimistis apabila kebijakan tersebut dilakukan pemerintah maka harga daging sapi bisa di bawah Rp100.000/kg. "Asal ada komitmen kuat untuk saling transparan mulai dari pengadaan hingga masuk ke RPH," katanya.

    Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai pasokan sapi dari NTT merupakan salah satu instrumen untuk mengendalikan harga daging sapi di bawah Rp100.000/kg.

    Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Jabar Dody Firman Nugraha mengakui apabila pasokan sapi dari NTT tidak akan berpengaruh signifikan terhadap harga daging sapi di pasaran.

    Dia menyebutkan kuota pasokan sapi dari NTT bagi Jabar hanya 12.000 ekor dari total secara nasional 56.000 ekor.

    "Akan tetapi, setidaknya hal ini bisa menjadi stimulus ke depan untuk menekan harga daging sapi di bawah Rp100.000/kg," ujarnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.